Jika kutrima kecutmu
Garam akan semakin larut pada darah. Serang bibir mengumpat
Namun hati tak bisa mengelah.
Hanya karmalah yang mampu menjawab
Bagaimana tak susah berbicara, otakpun nol akhlaknya.
Siapa mengaku suhu
Akan lenyap dilutut kutu.
Dan apa yang diancam serta menagih
Langit bergerumun menghinamu.
Sekali hati menderap
Di ubun rumput dan lalang.
Kau menangisi
Bangkaianmu sendiri.
Menyesalah selagi bisa
Sebab tak seorangpun tau bangkai dirinya.
Berdzikirlah selagi bisa
Karna tak seorangpun ingat pada sang pencipta.
Pandangilah setiap wajah kebaikan selagi bisa
Karna hanya orang husnudzonlah yang melandai.
Inilah puisi terakhir yang didaraskan
Sesuai dzikir panjang itu.
Oleh: M. Hikmatul Yazid
Oke sip
BalasHapus