Balas Dendam Online - Cerpen


 

BRUK.. "Heh, kalo jalan tuh pake mata di kepala, bukan pake mata kaki!" bentak seseorang yang suaranya sudah familiar seantero sekolah ini. "Ma..ma...maaf Kak." jawab si penabrak dengan terpatah-patah. Tiba-tiba dari seberang koridor, muncul seorang anak perempuan pendek berpipi chubby dengan rambutnya yang khas, ikat kuda. "Sashi...." Panggilnya. Sashi pun segera menghampiri anak tersebut "Ada apa sasha?" Ya itu namaku Sasha, aku adalah salah seorang siswa di Wattpadesurd high school. Dan cewek yang dibentak tadi namanya Sashi, sahabatku sejak kecil. Kami selalu satu sekolah sejak TK hingga sekarang. Maka dari itu kami dekat, kemana-mana selalu bersama.

Yang ngebentak sahabatku tadi itu namanya kak Mira, dia terkenal sebagai cewek yang gaul dan famous disekolah, ayah dan ibunya adalah penyumbang donasi terbesar di sekolah kami. Tapi sayangnya, kak Mira nggak sempurna, alias otaknya lemot banget dalam hal pelajaran. Bahkan kak Mira harus mengulang lagi kelas 10 dikarenakan nilainya yang tidak cukup mumpuni untuk dinaikkan kelas. Kak Mira selain famous dan gaul, dia juga punya cowok, namanya Sam. Sam ini teman sekelas kami, ia orangnya pendiam dan suka tidur di kelas. Meskipun begitu, kita semua gak ada yang tau kenapa si Sam bisa tetap jadi murid pintar meskipun waktu kelas dia sering tidur.

"Hei, sha? Kenapa bengong?" tanya Sashi padaku. "Ah, gakpapa. Ke kelas yuk, bentar lagi ujian nih. Aku belum hafalin beberapa rumus." kami berduapun segera menuju ke kelas kami X IPA 2. "Eh, Sashi. Kamu udah belajar kan buat ujian kali ini?" gumamku. "Oh ya sih, Sahabatku satu ini kan pinter banget di sekolah. Udah pasti kamu udah siap buat ujian hari ini." kataku sambil bercanda. "ah, itu hem. Eh, kamu tadi mau hafalin rumus apa?" tanya Sashi padaku.

Tak terasa bel masuk pun berbunyi, dari arah luar terdengar suara sepatu guru kami, pak Ahmad. Pak Ahmad ini tipe guru yang menjunjung tinggi yang namanya kejujuran. Waktu ujian begini, sudah dipastikan Pak Ahmad tidak akan mentolerir segala bentuk kecurangan apapun. Pak Ahmad masuk ke dalam kelas menyapa kami semua "Selamat pagi anak-anak! Sudah siap untuk ujian hari ini. Seperti biasa, peraturannya dilarang saling menyontek maupun memberikan jawaban dalam bentuk apapun. Jika ketahuan menyontek, bapak pastikan nilai kalian tidak akan muncul di rapor nanti." Duh kan, baru awal aja Pak Ahmad sudah mewanti-wanti kami agar mengerjakan ujian dengan jujur.

Lembar jawaban dan soal ujian pun dibagikan, tiba-tiba seorang murid lelaki datang dan masuk kelas dengan santainya. Yap, dia Sam. Uh, enak banget datang telat, tapi seolah gak punya salah. "Sam! Telat lagi kamu?" tanya Pak Ahmad basa-basi. Jawaban Sam hanya singkat, "Iya pak, maaf." "Ya sudah, silahkan duduk. Anak-anak, silahkan memulai mengerjakan soal ujiannya. Bapak akan awasi dari sini. Awas jika sampai ada yang ketahuan menyontek atau memberikan contekan." "Baik pak." jawab kami semua serempak.

Setelah itu, suasana kelas sangat hening. 30 siswa di.kelas termasuk aku sedang serius mengerjakan soal ujian. Aku juga semangat mengerjakan ujian kali ini, karena semalam aku sudah belajar sampai pukul 2 pagi. Ketika aku mulai membuka soal ujian dan membaca soal nomer 1, aku terkejut. 'kenapa soalnya susah banget. Perasaan kemarin aku belajar gak sesusah ini. Matilah aku' Batinku. Aku melihat ke arah sampingku, tempat duduk Sashi. Ia luwes mengerjakan soal ujian. Yah, aku tahu otaknya sangat sangat mumpuni jika mengerjakan soal-soal begini. Anak pintar mah bebas. Aku mulai kehilangan semangat untuk mengerjakan ujianku kali ini. Akhirnya kuputuskan untuk menghitung kancing kemejaku saja. Biarlah jika salah, nilai adalah urusan terakhir yang akan aku pikirkan, hehehe. Aku melirik Pak Ahmad yang sednag mengawasi kami dengan intens, 'maaf ya Pak Ahmad, aku gak nyontek kok. Aku berusaha jujur, tapi tetep aja gak bisa mengerjakan soal ujian kali ini. Doakan semoga keberuntunganku besar kali ini. Hehehehe' aku berdoa dalam hati.

Saat waktu sudah berjalan sejam, tiba-tiba aku mendengar suara kak Mira dari belakangku sedang memanggilku. "St..stt.. He, Sasha! st....st..." bisiknya sambil kakinya menendang nendang kursiku pelan. Awalny atak kuhiraukan panggilan dari Kak Mira, karena jujur saja aku takut jika menoleh, maka Pak Ahmad akan curiga kepadaku. Tapi lama-lama aku merasa terganggu dengan panggilan Kak Mira, kuputuskan untuk menoleh. Tapi sebelumnya aku melirik Pak Ahmad, beliau ternyata sedang sibuk melihat jam tangannya, mungkin sedang menghitung sisa waktu ujian. "ada apa kak?" tanyaku sambil berbisik juga. Melihat aku merespon panggilan Kak Mira, ia bergegas memberikanku selembar sobekan kertas. Ia memberikan isyarat kepadaku agar memberikan kertas ini kepada teman di sebelahku, Sashi.  Dengan cepat dan tanpa berpikir resikonya, aku segera mengambil sobekan kertas yang sudah disodorkan kak Mira.

Setelah itu kupalingkan kembali pandanganku ke depan. Aku lihat, Pak Ahmad masih sibuk mengawasi jam tangannya. Sekarang, aku tengah bingung, bagaimana caraku memberikan potongan kertas ini kepada Sashi, aku sudah menduga isinya pasti kak Mira minta jawaban dari Sashi. Duh, gimana ini. Aku masih memikirkan bagaimana caranya, sampai terdengar suara Pak Ahmad dari meja guru "Anak-anak waktu ujian tinggal 15 menit lagi, manfaatkan sisa waktu kalian untuk meneliti kembali jawaban kalian. Ingat! jangan tergesa gesa dalam mengerjakan soal." "Baik pak" jawab seluruh kelas kompak. 'Astaghfir, gimana ini. Waktu kurang 15 menit lagi, tapi aku belum nemu caranya duh gimana' batinku sambil terus berusaha berpikir cara memberikan kertas ini kepada Sashi.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku, pura-pura pinjam penghapus saja, pikirku. Akupun mengangkat tangan "Pak, saya izin pinjam penghapus ke Sashi ya pak. Penghapus saya kutang bersih pak waktu dipakai menghapus." jelasku panjang lebar. "Boleh. Asal jangan berpindah tempat." jawab Pak Ahmad. "baik pak, terimakasih" akupun segera memanfaatkan situasi ini. "Shasi, penghapus dong pinjem. Hehehe." ujarku sambil cengengesan. "Iya Sha, nih." jawab Sashi sambil memberikan penghapusnya kepadaku. Dengan cepat aku pura-pura menghapus di lembar jawabanku. Setelah itu aku selipkan kertas sobekan tadi di balik bungkus penghapus Sashi. Aku biarkan potongan kertas itu sedikit keluar agar Sashi bisa melihatnya. "Shi, udah nih. Hehehehe. Makasih ya." kataku. Sashi hanya membalasnya dengan senyum.

Saat itu, aku segera mengisi lembar jawabanku dengan jawaban asal tanpa membaca soal ujian. Setelah selesai, aku menengok ke sebelahku, Sashi, aku rasa dia juga melirikku dan Kak Mira. Tandanya bahwa ia sudah membaca pesan yang ditulis Kak Mira dalam sobekan kertas itu. Tapi anehnya, Sashi seperti kebingungan sambil memegang sobekan kertas itu, melirik ke arahku dan Kak Mira lagi. Kemudian, aku melihat Sashi dengan cepat menuliskan sesuatu di kertas sobekan itu. Aku rasa itu jawaban ujiannya. Setelah selesai dengan cepat ia bungkus kembali sobekan kertas itu dan ia selipkan lagi kedalam penghapus. Aku yang mengamatinya langsung paham, apa yang harus aku lakukan.

"Shi, penghapusnya pinjam lagi yah, hehehe." kataku sambil cengengesan lagi. "Ini." Sashi memberikanku penghapusnya. Tapi, di luar dugaanku dan Sashi, Kak Mira tiba-tiba memanggil nama Pak Ahmad "Pak, bisa kesini sebentar?" "Iya ada apa Mira?" Pak Ahmad berjalan ke arahku dan Kak Mira. Aduh, bagaimana ini, kertasnya belum aku sembunyikan. Naasnya Pak Ahmad melihat sobekan kertas itu yang sudah berada di genggaman tanganku. Seketika itu, Pak Ahmad langsung menyentakku. "Sasha, Kamu menyontek ya!" bentaknya. Aku hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Pak Ahmad. "Saya sudah bilang berkali-kali, bahwa saya tidak akan mentolerir siapapun yang menyontek saat ujian. Kamu sudah saya wanti-wanti daritadi, masih nekat juga ya!" seluruh kelas mulai memperhatikan Pak Ahmad yang membentakku. "Tapi pak, saya tidak menyontek. Kertas ini punya Kak Mira." aku berusaha membela diri. "Haduh Sasha kamu ini. Udah jelas-jelas ketangkep basah kamu yang nyontek, tapi masih nyalahin orang lain. Sudah, saya gak mau dengar alasan kamu. Sekarang, kumpulkan ke depan lembar jawabanmu. Dan segera menghadap wali kelas X IPA 2 di ruang guru. Dan tunggu saya disana." ujar Pak Ahmad sambil membentakku.

Seluruh teman-temanku hanya bisa memandang aku nanar, seperti tatapan kasihan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Aku segera mengambil lembar jawaban dan menaruhnya di meja guru, lalu keluar kelas menuju ruang guru. Disana aku menghadap ke Bu Lili, wali kelasku yang terkenal ramah dan sabar. "Loh, Sha. Kamu ngapain nduk disini?" tanya Bu Lili. "Saya disuruh Pak Ahmad menghadap ke Bu Lili." jawabku sambil tertunduk. "Oalah nduk. Sini sini duduk dulu. Ceritain ke Bu Lili ada apa toh sebenarnya?" Disitu aku mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Bu Lili. "Yasudah, biar nanti Bu Lili bantu jelasin ke Pak Ahmad. Sekarang Sasha duduk dulu disini, tunggu Pak Ahmad keluar kelas dulu ya." ujar Bu Lili menenangkanku. "Baik, bu."

Tak lama kemudian, pak Ahmad masuk ke ruangan guru. "Bu Lili, tolong muridnya diajarkan tentang kejujuran. Saya sudah mewanti-wanti diawal, kalau tidak boleh menyontek saat ujian. Tapi si Sasha ini malah nekat nyontek." Jelas Pak Ahmad panjang lebar. Bu Lili yang mendengar uraian panjang lebar Pak Ahmad, hanya tersenyum seraya berkata, "Begini pak, kalau menurut saya, belum tentu Sasha ini menyontek karena kata Sasha kertas itu milik Mira." jelas Bu Lili membelaku. "Bu Lili, murid ibu satu ini jelas-jelas sudah bersalah, buat apa dibela lagi. Sudah, lebih baik kamu dihukum saja. Buat paper dengan tema 2020 Era new normal. Minimal 5000 kata." Tegas Pak Ahmad, memberikanku hukuman. Kuiyakan saja hukuman yang beliau berikan, kemudian aku segera meninggalkan ruang guru.

Saat aku berjalan menuju kelas, semua teman-teman yang berpapasan denganku di koridor menatapnaku, seperti orang yang menjijikkan. Aku bingung, kenapa mereka semua seolah membenciku. Tiba di kelas, aku segera duduk di bangkuku, ku hadapkan ke sebelah kananku, meja Sashi. "Shi, aku dihukum nih." ceritaku sedikit sedih. Tapi respon Sashi aneh, ia hanya melirikku sesaat kemudian bergegas pergi meninggalkanku. Aku terkejut, kenapa semua teman-teman seolah membenciku, termasuk Sashi.

Keesokan harinya, saat aku masuk kelas semua temanku menatapku jijik. Aku hanya menunduk menyemangati diriku sendiri, kemudian menuju bangkuku. Jam istirahatpun ku habiskan dengan membaca beberapa jurnal di perpustakaan, lagi-lagi aku sendirian tanpa sahabatku, Sashi. Namun, ada hal aneh yang terjadi kepadaku. Tiba-tiba saja Sam, duduk di sebelahku dan menyapaku. “Hai, Sha.” “Oh, Sam. Aku kira siapa.” Akupun meneruskan membaca jurnal. “Buat apa?” tanya Sam memulai obrolan. “Ini? Oh, aku dihukum Pak Ahmad. Disuruh membuat paper 5000 halaman tentang New Normal.” Jawabku singkat. “Butuh bantuan?” tanya Sam. ‘eh, ini beneran si Samnawarin bantuan. Ih kesempatan langka nih, aku iyain aja deh.’ Batinku. “Hum, kayaknya iya. Mohon bantuannya ya Sam. Hehehe.” Ujarku sambal cengengesan.

Sejak saat itu, Sam selalu membantuku mengerjakan paper ini. Kami sering terlihat berduaan di perpustakaan. Sampai hari ketiga masa hukumanku, aku mendengar desas-desus bahwa Sam dan aku tengah berpacaran. Maka dari itu kami sering terlihat berduaan di perpustakaan. Hal itu membuat Kak Mira marah dan mencariku. “Heh Sasha! Lo pacarana kan sama Sam?” Teriak Kak Mira. “Maaf kak, apa? Aku pacarana sama Sam? Hahaha.” Kataku sambal tertawa. “udah, nggak usah pura-pura gitu deh, lo. Gue tau, lo itu cuman dijadiin pelarian sama Sam. Gara-gara gue nolak ajakan dia kemarin ke bioskop.” Jawab Kak Mira dengan pedenya. “Terserah kakak deh, mau ngomong apa. Saya permisi, masih banyak urusan.” Tuturku ketus.

Saat aku hendak pergi dari hadangan kak Mira, tiba-tiba muncul Sashi di depanku dengan membawa telur. “Shi, ngapain kamu bawa telur?” tanyaku. Sashi tidak menjawab, ia hanya memandangku sendu dan melemparkan telur itu ke wajahku. Aku kaget melihat Sashi yang begitu terhadapku. Dan aku lihat, Kak Mira tertawa terbahak-bahak. Semua teman-teman yang melintasi koridor juga melihatku seperti orang yang menjijikan. Akupun segera berlari menuju toilet untuk membersihkan wajahku yang kotor akibat lemparan telur.

Saat aku hendak masuk ke toilet perempuan, Sam menghadangku. Ia memberikanku baju olahraganya, seraya berkata “Ganti baju kamu.” Setelah memberikan bajunya, ia melongos pergi begitu saja. Akupun masuk ke dalam toilet dan mengganti bajuku. Aku melihat diriku sendiri di cermin toilet dan bertanya semenjijikan itukah aku. Hingga teman-teman menatapku jijik seperti itu. Bahkan Sashi, sahabatku sendiri malah melempariku dengan telur. Kuambil HPku dan kulihat ada notifikasi aneh.

Karena aku penasaran, kuklik notifikasi itu. Kubaca isinya ‘Apakah anda ingin menginstal aplikasi ini’. Kubaca nama aplikasinya ‘My Enemy’. Aplikasi apa ini, batinku. Kucoba search nama aplikasi ini di internet, tetapi aku nggak mendapat informasi apapun terkait aplikasi ini. Karena iseng, akhirnya aku menginstall aplikasi tersebut di HP ku. Sewaktu aku buka, muncul tulisan ‘Selamat datang, apakah kamu punya seorang musuh? Ketikkan Namanya, dan kami akan membantumu.’ Karena iseng ku coba ketik nama kak Mira, ‘Mira Elmanda’ ketikku lalu kutekan next. Dan kutunggu bagaimana respon aplikasi ini. Tapi yang muncul hanya tulisan, ‘musuh terverifikasi. Kami akan membantu.’ Karena bel masuk kembali berbunyi, aku segera menuju ke kelas dan nggak menghiraukan aplikasi tersebut.

Keesokan harinya, saat aku masuk kelas. Aku kaget melihat semua teman temanku berlari kearahku sambal meminta maaf. “Eh,bentar-bentar. Ini ada apaan sih. Kok pada minta maaf ke aku.” Tanyaku pada salah satu dari mereka. “Loh Sha, kamu nggak tahu kabar? Kak Mira kemarin malam kecelakaan. Coba deh Sha, kamu lihat video ini.” Salah satu temanku memperlihatkan sebuah video. Video itu singkat hanya berisi pengakuan Kak Mira, bahwa selama ini ia telah memfitnah aku dihadapan teman-temanku. ‘Oh, jadi gara-gara ini semua meminta maaf nih ke aku.’ “Teman-Teman, kalian semua aku maafin kok. Kitakan semua berteman, jadi ya, saling memaafkan juga dong. Hehehe.” Teriakku sambal cengengesan.

Akupun segera duduk di bangkuku. Saat aku tengok, Sashi di sebelahku hanya terdiam dan menunduk. “Sha, dipanggil Bu Lili tuh di ruang guru.” Teriak Doni, salah satu temanku. “Ada apa Don?” tanyaku. “Mana aku tahu lah.” Jawabnya. “Oh, kirain kamu tahu. Makasih ya Don. Aku ke ruangan guru dulu. Daaah. Hehehe.” Jaawabku pula sambal cengengesan.

Setibanya di ruangan para guru, aku langsung menghadap ke Bu Lili. “Selamat pagi, Bu Lili. Bu Lili manggil saya?” Tanyaku. “Iya nduk. Sini kamu duduk dulu. Sebentar biar ibu perlihatkan sesuatu.” Bu Lili mengambil secarik kertas. ‘Kertas itu. Kertas contekannya Kak mira bukan’ Tanyaku dalam hati. “Nduk, Bu Lili sudah tahu, siapa sebenarnya yang menyontek itu. Bu Lili udah coba bandingkan tulisanmu dengan tulisan yang ada di kertas ini. Dan hasile bedo.” Jelas Bu Lili Panjang lebar.

“Tulisan ini, bisa Bu Lili pastikan punya Mira dan Sashi. Kamu nggak bersalah Sasha. Kamu nggak perlu membuat paper itu.” Lanjut Bu Lili menerangkan. “Tapi bu, Sashi nggak bersalah kok sebenarnya. Dia ngelakuin itu karena terpaksa,bu.” Belaku. Aku tahu ini bukan sepenuhnya salah Sashi. Pasti ada sesuatu antara Kak Mira dan Sashi yang belum aku ketahui. “Yasudah, bu. Sasha permisi dulu mau Kembali ke kelas.” Terangku. “Iya, Nduk.” Jawab Bu Lili.

Sekembalinya aku di kelas, ku coba memberanikan diri untuk berbicara dengan Sashi. “Shi, kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu, ya? Kamu kok sampai jauhin aku gitu.” Tanyaku. Sashi tidak menjawab, ia hanya menangis sesenggukan. “Sashi! Jawab aku dong, please. Kamu kenapa? Udah nggak mau sahabatan lagi sama aku?” “Bukan begitu Sha. Aku.. aku.. “Sashi pun mulai menceritakan semuanya kepadaku. Bagaimana Kak Mira yang mengancamnya agar tidak berteman denganku. Serta alasan mengapa Sashi melempariku telur waktu itu. Ternyata Sashi diancam Kak Mira, jika dia dekat-dekat denganku, maka beasiswanya akan dicabut. Sashi tidak mau kehilangan beasiswanya. Oleh sebab itu, dia berpura-pura menjauhiku.

“Sasha, coba kamu liat di lapangan ada apa.” Kata temanku memberitahu di depan pintu kelas. Aku segera berlari ke arah lapangan. Di sana, terlihat banyak murid yang sudah mengelilingi lapangan tersebut. Aku cukup tertegun saat melihat siapa yang berada di tengah lapangan, itu Sam dan Kak Mira. Mereka sepertinya sedang bertengkar. DRT.. DRTT.. notif dari HP ku menginterupsi. Aku cek, ternyata dari aplikasi My Enemy. Klik. ‘Kami sudah membalaskan dendam anda’ tertera tulisan itu di layar HP ku. Aku penasaran, maksud aplikasi ini apa. Akhirnya aku scroll ke bawah dan melihat ada foto Kak Mira saat kecelakaan, foto Kak Mira saat menangis di tengah jalan serta foto Kak Mira yang kakinya di perban. Jadi ini, fungsi aplikasi ini. Membalaskan dendam seseorang.

“Sha, kita ke sana yuk.” Ajak Sashi padauk. Aku yang setengah bingung atas apa yang aku lihat di HP ku hanya menurut pasrah, saat ditarik oleh Sashi ke arah lapangan. Saat tiba di lapangan, betapa terkejutnya aku saat ada tiga orang murid memberikanku balon yang di dalamnya bertuliskan kata I, lambang cinta, dan You. “Eh, apaan nih?” Tanyaku. Mereka tidak menjawab, malah menuntunku ke tengah lapangan. Di sana sudah ada Sam dan tentu, Kak Mira yang terlihat kesal. “Sasha, aku minta maaf, atas semua kelakuan gak baik Mira ke kamu. Dan hari ini, aku berani menyatakan sesuatu kepada orang yang selama ini kuperhatikan diam-diam. Kamu adalah orangnya, Sasha. Maukah kamu menerima pengakuan tulusku ini?” jelas Sam panjang lebar.

“Sam, kamu.. jadi selama ini, kamu diam-diam memperhatikanku? Selama ini, kamu juga tahu Kak Mira ngelakuin apa aja ke aku?” tanyaku. “Iya, aku tahu. Aku diam bukan berarti aku tidak peduli, Sha. Tapi aku sedang mempersiapkan sesuatu untukmu. Bisa ikuti aku Sha?” tanya Sam padaku. Aku hanya mengangguk dan mengikuti kemana Sam pergi.

Ia mengajakku ke Gedung belakang sekolah. Gedung itu luarnya seperti tak terawat, tetapi ketika aku dan Sam masuk ke dalamnya, seperti masih ada kehidupan dalam gedung ini. Kami masuk ke sebuah ruangan, seperti sebuah studio. Kecil namun sejuk. Di pojokan ruangan, terlihat dua buah computer serta empat laptop yang tersusun rapi. “Sam, tempat apa ini? Kok bagus. hehehe” tanyaku. Sam menjawab dengan santai, “Tempat ini adalah duniaku. Disinilah aku Bersama keempat temanku menciptakan suatu aplikasi yang dapat dipakai orang-orang terpilih.” “Sam, jangan bilang kamu…” tanyaku yang sedikit ragu untuk mengatakan aplikasi tersembunyiku.

“My Enemy, adalah salah satu contoh hasil yang sudah bisa aku dan teman-temanku sebut sebagai produk kami.” Tutur Sam. “Jadi yang ngebantuin aku itu, kamu sama temen-temenmu?” tanyaku penasaran. “Bisa dikatakan begitu.” Senyum Sam pun menghiasai wajahnya. “Sam.” Panggilku. “Iya. Kenapa Sha?” “Ehm.. pernyataan cinta yang tadi, masih berlaku nggak? Hehehe.” “Masih. Mau kamu jawab sekarang?” Tanya Sam menggodaku. “Hehehe iya. Aku juga sebenarnya belum tahu Sam, perasaan apa ini. Tapi setiap kamu ada, aku selalu ngerasa seneng. Deg degan juga. Dan bingung mau bilang apa. Hehehe. Kita coba jalani berdua dulu aja ya. Hehehe.” Jelasku panjang lebar.

“Sha, boleh peluk?” tanyanya malu-malu. “Boleh.” Kataku sambal memeluknya. Setelah aku puas bertanya-tanya mengenai apapun yang belum aku ketahui tentang aplikasi itu, tentang Sam, dan tentang ruangan itu. Kami berdua kembali menuju kelas. Di kelas, semua teman-teman seolah sedang menyambut kami. “Sha.” Panggil Sashi sambal memelukku. “Kamu habis dari mana?” tanya Sashi. “Rahasia, dong. Hehehe.” Jawabku. “Gimana?” “Apanya?” tanyaku balik. “Sam sama kamu..” Sashi menggantungkan kalimatnya. Aku tidak menjawab malah tersenyum malu-malu. Ah, betapa bahagianya aku hari ini.

Hari ini, hari yang ditunggu oleh semua murid di Wattpadesurd high school. Karena hari ini adalah ulang tahun Wattpadesurd high school ke-10. Semua murid sibuk untuk mengikuti lomba. Tak terkecuali Sam, pacarku. Ia mengikuti lomba basket. Dan aku, sebagai supporter yang berdiri paling depan buatnya. Sementara Sashi tengah mengikuti lomba karya ilmiah. Perlombaan berjalan sangat menyenangkan. Sampai Ketika terjadi ledakan laboratorium, tempat lomba karya ilmiah diadakan. Tanpa berpikir Panjang aku segera kesana. Mencari Sashi, sahabatku.

Untungnya, Sashi hanya luka-luka ringan dan sedang diobati di UKS. Akupun segera menyusul Sashi di UKS. “Shi, kamu gakpapa?” tanyaku khawatir. “aku gakpapa Sha.” Jawab Sashi kalem. DRT.. DRT.. aku kira itu HPku yang bergetar, ternyata HP Sashi. Sashi mengecek notifikasi yang muncul. Seperti tengah kebingungan, aku bertanya pada Sashi “Kenapa?” “Em.. Sha. Dari kemarin, aku dapet notif di HP ku. Kamu tahu, ini apa?” Tanya Sashi padaku. Ia menunjukkan HPnya, di layarnya tertulis sebuah pesan notifikasi ‘Apakah anda ingin menginstall aplikasi ini’. Ku tekan yes pada notifikasi tersebut, kemudian muncul tulisan ‘My Enemy, siap membantu. Adakah seseorang yang kamu curigai.’ Ah, aku tahu ini pasti perbuatan Sam dan kawan-kawan. Rupanya mereka mulai mencoba untuk mengembankan aplikasi ini. Bukan hanya sekedar membalaskan dendam. Tapi juga untuk mengungkap apa yang tidak pernah kami ketahui.


Oleh : Kerabati Clarissa UKPI18

 

Komentar