Bibir Ampas - Puisi

 

Jika kutrima kecutmu

Garam akan semakin larut pada darah. Serang bibir mengumpat

Namun hati tak bisa mengelah.

Hanya karmalah yang mampu menjawab


Bagaimana tak susah berbicara, otakpun nol akhlaknya.


Siapa mengaku suhu 

Akan lenyap dilutut kutu.

Dan apa yang diancam serta menagih 

Langit bergerumun menghinamu.


Sekali hati menderap

Di ubun rumput dan lalang. 

Kau menangisi 

Bangkaianmu sendiri.


Menyesalah selagi bisa

Sebab tak seorangpun tau bangkai dirinya. 

Berdzikirlah selagi bisa

Karna tak seorangpun ingat pada sang pencipta. 

Pandangilah setiap wajah kebaikan selagi bisa

Karna hanya orang husnudzonlah yang melandai.


Inilah puisi terakhir yang didaraskan 

Sesuai dzikir panjang itu.


Oleh: M. Hikmatul Yazid

Komentar

Posting Komentar