Sandyakala di Kota Lama - Cerpen

Akhir destinasi penutup hari, kota lama Semarang. Finally sampai juga di kota lama setelah perjalanan panjang dari Lawang Sewu, kuliner di sekitar simpang lima, dan berswafoto di tugu muda. Hanya bermodalkan nekat aku mengelilingi kota semarang menaiki bus kota dan sesekali jalan kaki untuk menjelajahi area street food. Belum lengkap kalau belum menjelajahi kota lama. Disinilah aku turun, di dekat taman srigunting. Aku ingin mengistirahatkan tubuhku sejenak setelah lelah bertamsya.

 

Aku berjalan memasuki taman Srigunting dan duduk di bangku panjang yang disediakan di sana. Menikmati udara sejuk kota Semarang di sore hari, memandang pepohonan rindang yang menyegarkan mata, mengamati banyak orang yang berlalu lalang dengan aktivitas mereka masing-masing dan sesaat aku terpaku oleh salah satu objek yang menarik perhatian ku. Seorang laki laki yang kira kira seumuran dengan ku terlihat bersenang senang dengan dua kucing kecil di hadapannya. Dia berjongkok, asik mengelus rambut halus dua kucing kecil itu. Jika aku tak salah dengar dia mengatakan “besok aku akan bermain di sini lagi, jadi jangan kemana-mana yaa”  kepada dua kucing kecil dihadapannya dan ditanggapi meongan lucu. Aku mengembangkan senyum. Karena aku tidak ingin melupakan momen yang menarik bagiku ini maka aku bersiap untuk memotret pemandangan menghangatkan dan lucu itu. Aku mengangkat kamera yang menggantung di leher jenjangku dan mengepaskan objek untukku potret.

 

Namun aksi memotret diam diamku ini sepertinya dipergoki oleh laki laki itu karena tiba tiba saja dia menoleh kearah ku. Jelas saja aku terkejut dan menurunkan kameraku karena malu. Aku menunduk dan tersenyum kikuk kearahnya bermaksud untuk meminta maaf karena sudah lancang memotret tanpa minta izin terlebih dahulu. Tidak diduga laki laki itu malah mengangkat satu kucing yang berwarna kekuningan sejajar dengan wajahnya dan menyunggingkan senyum.

 

“Ayoo fotoin gue”

 

Sedetik aku cengo, kemudian cepat cepat sadar dan mengangkat kamera ku lagi lalu memotret objek yang sama. Seorang laki laki berparas tampan, tubuhnya jenjang tinggi, suaranya khas, dan senyuman nya yang manis. Dengan satu ekor kucing di genggaman tanganya. Berlatarkan hijau nya taman srigunting, bangunan kota lama semarang khas belanda dan langit kemerahan senja.

 

“Udaah”

 

“Okeey makaasih”

 

Dia berdiri lalu meletakkan anak kucing itu kembali bersama satu kucing lainnya. Masih dengan senyuman nya yang terukir manis, dia berjalan menuju ku lalu duduk di samping kanan ku. Padahal tadi aku melihat ada seorang bapak tua yang duduk di samping kanan ku tapi mengapa aku tidak merasakan kepergiannya?

 

“Boleh liat hasilnya?” Kepalanya terlalu menengok sehingga menutupi ku dari layar kamera

 

“Boleeh, tapi permisii gimana aku bisa ngecek hasilnya?”

 

Tubuhnya kembali tegap dan menunjukkan sederet gigi putih nya

 

“Hehe maaf”

 

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala memaklumi.

 

“Niih”

 

“Waaah kereen. Mauuu dong kirim ke gue”

 

“Boleh.. lewat mana?”

 

“Telepati”

 

Such a humorist person. Aku terkekeh mendengar jawabannya.

 

“Oiya, salken nama gue Elonio juna”

 

Laki laki yang mengaku memiliki nama Elonio juna ini mengulurkan tangan kanannya di hadapan ku berharap untuk ku balas jabatan tangan nya

 

“Namaku –”

 

“Biar gue tebak. Mira?”

 

“Kok tau?”

 

“Sandhya Mira. Kita punya arti nama senja”

 

***

 

Setelah aku dan juna bertukar nomor telepon, diantara kami hanya berdiam diri saja, tidak ada lagi percakapan yang terjalin setelah sekitar satu menitan. aku menoleh kearah juna, dia sedang melamun. Mengamati langit kemerahan senja sore hari.

 

“Maaf tadi gue ngga sengaja lihat nama lo dari gantungan kamera lo”

 

“Ooohh santai aja kali, aku -”

 

“Gue lo aja”

 

Aku menatap juna sekilas. Dia tetap tak mengalihkan pandanganya sedikit pun.

 

“Okey? gapapa santai aja. Gue juga minta maaf karena lancang motoin lo tadi”

 

“Sebenernya..”

 

Aku melihat Juna menggaruk belakang kepalanya, terlihat canggung.

 

“Gue tadi ngikutin lo”

 

“What? lo ngikutin gue? tapi gue ngga ngerasa diikutin”

 

 

“Lo tadi turun dari stasiun Semarang Poncol kan? Bukannya gue suudzon, tapi ada orang yang gerak geriknya aneh ngikutin lo keknya ngincer kamera lo deh. Trus gue berdiri di deket lo, orangnya liatin gue, dia pergi deh.”

 

“Serius lo ngikutin gue dari stasiun sampe sini? Gilaa jauh banget”

 

“Hehehe tenang aja gue ngga ada niatan buruk kok”

 

“Makaasih yaa Jun niat banget ngikutin sampe sini. Eh ini gue panggil Jun aja kali ya, kalau Juna kepanjangan ”

 

“Panjang apanya, tapi terserah lo deh sesuka lo aja”

 

Juna tersenyum canggung. Laki laki ini lucu juga ya, selera humornya cukup receh.

 

“Lo asli orang sini Jun?”

 

“Iya gue asli Semarang. Kalo lo sendiri? Pasti bukan asli sini sih kata gue”

 

“Hehehe iyaa, gue asli Surabaya”

 

“Bagus deh”

 

“Bagus apanya?”

 

“Ntar kalo gue sama lo mudiknya ke ibu kota trus”

 

Aku ketawa renyah mendengar nya. Elonio Juna, aku berharap kita bisa mengukir kisah bersama setiap hari nya tanpa dihentikan oleh waktu.

Komentar