Pelangi Untuk Naya - Cerpen

 

    Hujan selalu membawa kisah menyedihkan bagiku, kisah di mana hujan menjadi saksi bisu  kepergian ayahku. Dia ditabrak seorang pengendara motor tak bertanggung jawab di saat yang seharusnya bahagia untukku. Seharusnya saat itu aku merayakan ulang tahunku bersama ayah, ibu, dan hujan! Saat usiaku tujuh tahun ayah pernah berjanji padaku.

       “Naya, kamu mau ayah ajarkan caranya bermain biola?” menghampiri ke bangku teras.

       “Susah ngak sih, Ya?” sambil menatap lugu pada sang ayah.

       “Kalau kamu sudah ada niat mau belajar, jangan dipikir susah gampangnya dulu, tapi kamu bangun tekad yang kuat, percaya AKU PASTI BISA! Kalau kita terus berusaha dan tidak mudah berputus asa tidak akan ada hal yang tidak mungkin. Semua bisa terwujud nyata. Ok Naya! “ Ucapnya berusaha menyemangati sang anak.

       “Ok, siap ayah!” ia mengangkat kedua ibu jari kecilnya sambil melebarkan senyuman. 

        Sang ayah tersenyum mendengar jawaban polos dari anak perempuannya. Saat itu mereka sedang bersama, duduk di teras rumah, menikmati hujan yang turun rintik walau keadaannya sedang cerah. Aroma menyegarkan menyerbak dari tanah yang basah.

       “Nanti kalau Naya sudah jago main biolanya, ayah janji bakal belikan Naya biola sendiri. Nanti kita main biolanya bareng-bareng sama hujan, biar hujan membawa melodi biola kita pada ibu di sana. Naya, Ayah, dan Hujan akan menjadi perpaduan yang indah.” Tersirat kesedihan di matanya yang sedang menatap hujan. Kiranya mungkin hujan mengingatkannya akan seseorang. 

         Anak perempuan itu tak mengerti apa yang sang ayah maksud, yang dia tahu jika ayahnya sudah menyebut kata “ibu”, maka dengan sekonyong-konyong atmosfer akan terasa berbeda – dingin yang sekonyong-konyong merambah hati dan semua menjadi sunyi. Semua akan terasa hening seakan-akan waktu terhenti, walau sebenarnya hujan yang turun mulai deras hingga agak air mulai naik.

        Sang ayah mulai memainkan biolanya, gadis kecil itu menikmati tiap alunan nada yang tercipta dari senar-senar biola yang dimainkan sang ayah. Sungguh indah suara yang tercipta, suaranya mampu membuat siapa saja yang mendengarnya terkesima. Tidak hanya gadis kecil itu yang terpaku mendengar alunan biola ayahnya tetapi, kucing kesayangannya yang diberikan ibunya juga ikut menikmatinya sambil bergelayut manja di bawah sana.

          Mendengar melodi dari permainan biola sang ayah, sering kali membuat gadis kecil itu bertanya-tanya. Mengapa musik yang terdengar begitu sendu? Entah mengapa, apa hanya perasaannya saja yang merasa dibalik melodi indah itu tersirat sebuah kisah pilu. Gadis kecil sepertinya sudah mengerti, sang ayah sedang tidak baik-baik saja saat ini.

         Meskipun begitu, ia tak pernah mempertanyakan permainan biola sang ayah yang terkadang terasa berbeda. Dia terlalu terbuai, menikmati tiap alunan nada yang tercipta dan kucingnya terus saja mengeram di bawah kakinya, ia angkat kucing itu dan menempatkannya di pangkuan. Sambil menikmati permainan biola sang ayah, ia mengelus-elus bulu kucing yang kini ada di pangkuannya.

          Kucing itu pemberian dari sang ibu, ibunya memberikan anak kucing sebagai hadiah saat usianya menginjak lima tahun dan kucing itu pun menjadi hadiah terakhir yang diberikan sang ibu padanya. Ibunya menyampaikan pada si gadis kecil bahwa kucing itu yang akan menemaninya saat ia kesepian jika orang tuanya harus bekerja di ladang. Gadis kecil itu tidak memberi nama pada kucingnya, ia hanya akan memanggilnya “Pus ...”, maka dia akan langsung menghampiri dan bergelayut manja padanya.

...

        Ayah sudah menepati janjinya padaku untuk memberikanku sebuah biola, tetapi ayah lupa bahwa dia juga menjanjikan hal lainnya. Kami akan bermain biola bersama di saat hujan, agar hujan membawa melodi biola yang kami mainkan kepada ibu di sana. Air mataku menetes mengingat semua kenangan itu, di usiaku yang masih lima tahun sudah harus kehilangan sosok ibu, setelahnya pada tiga belas tahun usiaku, ayah juga meninggalkanku. Kini aku ...

       Tidak! Aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihanku, di luar sana masih ada orang yang memiliki ujian hidup yang lebih berat daripada diriku, lagi pula aku percaya bahwa Tuhan tidak akan mengujiku begitu berat jika aku tidak mampu. Aku pasti bisa menjalani hidup meski tanpa kedua orang tuaku. Aku tidak boleh terus bersedih, seperti yang pernah ibu katakan pada ayah dulu:

        “tidak ada salahnya menangis, tapi sekadarnya saja. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, hujan yang deras bisa membuat banjir, kesedihan yang mendalam bisa membuat kita hanyut dan kehilangan arah yang benar.”

         “Ingatlah, selepas hujan matahari akan bersinar dan terkadang pelangi akan menghiasi di sela-sela awan. Setelah menangis kita harus kembali ceria, hapus air mata dan gantikan dengan senyuman bahagia, dan mungkin kita akan menemukan pelangi setelahnya,”

          “Kau adalah pelangiku.”

       Aku menghapus air mataku dan mulai tersenyum, kuarahkan pandanganku ke depan. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu kendaraan yang lalu-lalang, jarak pos satpam dengan jalan raya cukup jauh. Langit sore yang terlihat seperti malam akibat mendung dan hujan yang tak usai-usai semakin menambah kegelisahanku. Aku tidak dapat melihat dengan jelas kendaraan apa yang lewat di depan sana ditambah kacamata yang kugunakan berembun terkena hujan.

        “Apa kakak tidak akan datang menjemputku?”

        “Ini sudah hampir jam 5 sore, seharusnya kakak sudah datang menjemputku.”

      “Apa terjadi sesuatu padanya? Tuhan ... Semoga kakak baik-baik saja,” aku sungguh khawatir padanya.

        Aku masih di tempat yang sama, bersandar di bangunan pos satpam sekolah. Hujan yang turun cukup deras, terkadang petir menyambar dan suara guntur menggelegar. Dari kecil aku sangat takut terhadap suara guntur, sehingga setiap hujan turun ayah atau ibu akan memelukku erat, namun sekarang mereka sudah tidak ada lagi di sampingku. Sekarang aku hanya bisa memejamkan mata sambil menutup telinga berusaha menghalau suara guntur yang datang tiba-tiba mengagetkanku.

            “Kakak ..., cepatlah datang.”

            “Naya takut ...” suaraku semakin rendah seiring bertambahnya rasa takutku.

            Aku semakin memejamkan mata, suara guntur saling sahut-menyahut terdengar samar-samar, aku tidak tahu sudah berapa lama aku menutup mata dan telingaku. Hingga aku merasa ada sebuah tangan menyentuh pundakku, aku pun semakin memejamkan mataku, semakin merasa takut.

            “Siapa yang ada di sampingku?” batinku bertanya.

            “Hai, buka matamu.” Terdengar sebuah suara lembut yang kukenal. 

        Aku pun membuka mata dan sepertinya hujan mulai reda, tidak ada lagi petir yang menyambar apalagi suara guntur yang menggelegar. Aku mencoba menoleh ke samping, dari bawah kulihat sepasang kaki tegak berdiri, lalu kulayangkan pandanganku lebih ke atas.

            “Kakak ...!” 

          “Apa kau sudah menunggu lama? Maaf ya, kakak tadi mampir ke toko buat beli hadiah,” ucapnya sambil mengelus pucuk kepalaku.

        Aku tersenyum dan menghambur ke pelukannya, membenamkan wajahku di dadanya. Ternyata kakakku sudah datang, aku percaya kakakku tidak akan meninggalkanku sendiri. Hujan sudah mulai reda namun pelangi sama sekali tidak tampak di langit. Hal yang kusuka dari hujan adalah bau Petrikor dan tentu saja pelangi yang indah, walau sekarang pelangi sama sekali tidak menunjukkan wujudnya. Tetapi bagiku pelangi itu telah tiba, ia kini berdiri di hadapanku, tersenyum hangat hanya untukku. Pelangi itu, kakakku.

        Meskipun kedua orang tuaku telah tiada, namun aku masih bisa merasakan kasih sayang walau bukan dari mereka. Kasih sayang itu datang dari kakakku, seseorang yang begitu istimewa bagiku, dia yang kupanggil kakak telah membantuku keluar dari jerat masa lalu yang membuatku terpuruk. Ingatan kematian ayahku.

        “Kakak beli hadiah buat Naya? Hadiah apa, sini Naya mau lihat,” aku mencoba mencari di mana kakakku menyembunyikan hadiah untukku.

        “Nanti aja di mobil. Ayo pulang,” tangan kami saling bertautan, kakak membawaku ke mobilnya untuk segera pulang. Aku tersenyum sambil menundukkan wajah.

         Aku percaya setelah badai berlalu, matahari akan bersinar lagi lebih terang dan jika kita beruntung mungkin pelangi akan muncul di sela-sela awan. Pelangi tidak hanya hadir setelah hujan, pelangi datang sebagai tanda bahwa kita telah berhasil melewati cobaan dan pelangiku telah datang. Kakakku adalah pelangiku, dia pelangi yang diberikan Tuhan sebagai hadiah  keberhasilanku melewati masa laluku yang kelam.


Surabaya, 24 Juni 2022

***


Komentar