Hari ini hujan turun, tidak begitu deras. Tapi cukup sudah untuk membuat sejuk kota Jakarta yang terlalu panas.
Aku menghela napas Panjang. Mataku melihat ke sekeliling. Lalu Lalang orang di sekitarku cukup padat memenuhi seisi ruangan. Di tempat seperti ini aku tidak mungkin merasa dingin, apalagi ini bukan tempat ber AC. Bahkan aku merasa udara di sini terlalu pengap.
Dari peron salah satu stasiun yang ada di kota ini, kalian bisa melihat dengan leluasa pemandangan tempat penjualan tiket yang terlalu ramai oleh para penumpang kereta yang sedang mengantre menunggu giliran untuk membeli tiket. Mereka berbaris cukup rapi.
Stasiun ini bukanlah stasiun besar. Ini hanya salah satu dari banyaknya stasiun kecil di kota ini.
Aku kembali menghela napas Panjang.
Sudah hampir satu jam aku duduk di sini. Di kursi paling ujung di peron ini. Aku memang sengaja berangkat lebih awal. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan diriku. Karena mungkin saja aku berubah pikiran. Dan kembali ke kehidupan sebelumnya yang akan kutinggalkan. Aku membutuhkan waktu cukup lama bergelut dengan pikiranku, hingga aku benar-benar siap. Yogyakarta, kampung halaman serta tujuan utamaku.
Di sebelahku duduk dua orang muda, sepasang. Yang wanita berkerudung putih dan memakai kaos lengan Panjang berwarna abu-abu. Lelaki yang entah suami atau pacarnya setia menggandeng tangannya. Mereka baru saja tiba. Mungkin mereka akan pergi berlibur. Tapi dengan ini sudah cukup bagiku untuk mengerti betapa mesra dan serasinya mereka.
Di seberangku ada juga duduk seorang ibu dan anak. Mereka terlihat bahagia.
Dan yang paling mencuri perhatianku, seorang pria yang sedari tadi belum selesai mengomel, meminta pertanggungjawaban seorang petugas. Aku tidak tahu pasti apa yang membuat pria itu kesal, tapi yang pasti aksi marah-marahnya berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang di stasiun ini.
Pria itu berpakaian rapi, memakai kemeja, celana Panjang berwarna hitam, dan berdasi. Sepertinya pegawai kantor yang memiliki jabatan cukup tinggi.
Aku tidak tahu lagi kelanjutan cerita pria itu, karena tidak berselang lama keretaku sudah datang.
Aku menghela napas Panjang
Dengan langkah pasti aku melangkah. Sudah tiba saatnya, saat di mana aku harus kembali melanjutkan hidup, kembali ke kampung halaman, dan memulai semuanya dari awal. Sudah cukup lama aku berjuang untuknya di kota ini.
Dengan mudah aku bisa menemukan gerbongku. Segera aku mengambil tempat duduk di sebelah jendelasetelah menaruh barang-barangku. Aku tidak membawa cukup banyak barang. Aku hanya membawa satu ransel berisi baju. Aku memutuskan menjual semua barang yang kumiliki selama aku tinggal di kota ini.
Kereta masih belum berangkat. Aku kembali menghela napas Panjang.
5 tahun lalau aku datang ke kota ini dengan tekat kuat penuh harap. Berharap yang terlalu besar untuknya. Sangat aneh. Aku mencintainya, sangat. Aku menyesuaikan diri sepenuhnya untuk dia. Aku ingin menjalani hidupku untuknya. Ak uterus melakukan itu.
Aku mendaki, selangkah demi selangkah dengan semangat yang terlatih. Hanya untuknya.
Hingga sampai di titik aku tidak tahan lagi dengan badai di dalam diriku. Di dalam hatiku. Aku kehilangan jati diriku. Untuknya diriku yang sebenarnya berada dalam topeng yang sedang tersenyum. Aku tidak tahan lagi. Dan aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya.
Aku akhirnya menyadarinya. Akulah yang harus aku cintai. Diriku yang bersinar dan berharga. Aku tidak sempurna. Tapi aku sangat indah, dengan caraku sendiri. Seperti halnya Edelwise. Aku tidak sempurna. Tapi aku berjanji tidak akan putus asa. Meski kadang semua tak mudah, seperti halnya Edelwise.
Tubuhku sedikit terguncang. Keretaku telah berangkat. Aku sadar, tidak ada lagi yang tersisa. Sekuat apapun aku berusaha, dia tetap tak akan melihat ku. Dan aku memutuskan memulai semuanya dari awal. Di mulai dari kampung halamanku, Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar