Hak asasi yang ada pada diri manusia sekaligus menjadi hajat
kehidupan dasar mereka ada 3 macam, kebebasan, kepercayaan dan cinta. Kata
cinta tidak bisa diartikan pada satu sisi saja. Karena cinta bisa diartikan pada
sebuah rasa yang memberikan kenyamanan, ketenangan dan kenikmatan dalam
kehidupan. Frekuesnsi cinta yang terlalu tinggi terkadang dapat membuat manusia
mengorbankan sesuatu diluar nalar manusia biasa.
Cinta bisa membuat manusia menemukan
tujuan kehidupan yang sebenarnya, keceriaan, sehingga terciptalah sebuah seni
keindahan yang dapat merangsang tumbuh kembangnya cinta. Rasa keindahan yang ada
pada diri manusia dapat terpancing, yang akhirnya timbul rasa kecintaan. Syekh
Amin al-Kurdi pernah mengutarakan pendapatnya bahwa cinta adalah sebuah
kecenderungan tabiat kepada suatu hal, karena keadaan itu amat nikmat bagi
orang yang sedang bercinta kasih.
Namun, dari sisi lain cinta itu tidak bisa di definisikan secara
pasti dan menjadi hak paten. Jalaluddin al-Rumi pernah berpendapat bahwa
siapapun yang mendefinisikan cinta sesungguhnya dia tidak pernah merasakannya.
Siapa yang tidak pernah meneguknya, maka dia tidak pernah mengenalnya. Dan
siapapun yang mengatakan dia telah merasa puas oleh cintanya, berarti dia tidak
pernah mengenal cinta itu, karena cinta bersifat mereguk tanpa pernah merasa
puas.
Bagitulah cinta dalam Islam. Cinta yang tidak bisa ditentukan
menurut tingkat sosial atau ras. Biasanya manusia yang memilki kecerdasan akan
lebih mampu mengungkapkan rasa cintanya, dibandingkan manusia yang memilki
kecerdasan dibawah standar. Seorang sastrawan tentunya lebih puitis dan menyentuh
perasaan dalam mengungkapkan cintanya, daripada seseorang yang tidak pernah
terjun dalam dunia satra.
Di zaman sekarang kata “cinta” sering disalah artikan dan disalah
gunakan. Banyak dari kalangan para pemuda pemudi yang menjalin hubungan yang
tidak pernah dianjurkan oleh Syari’at Islam. Tidak sedikit dari pemuda pemudi
itu yang berlatar belakang pendidikan pesantren, tahfidz atau bahkan anak kyai.
Mereka berdalih bahwa hubungan yang mereka lakukan adalah cinta. Padahal
dibalik rasa cinta, ada rasa nafsu yang konsepnya hampir sama dengan cinta,
namun dia lebih mengarah untuk berbuat kejelekan.
Rasa cinta yang dimiliki manusia kepada lawan jenisnya sama sekali
tidak jadi masalah. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk mencintai lawan
jenis. Namun, letak permasalahnnya ada pada cara mereka menjalaninya. Berduaan
dengan yang bukan mahrom sudah menjadi tradisi yang biasa-biasa saja. Tidak ada
himbauan dan larangan dari orang tua atau dari orang-orang terdekatnya.
Ketika rasa cinta itu memungkinkan adanya akibat buruk, lantas
mencintai apakah yang mutlak baiknya? Dari pertanyan itulah orang-orang sufi
mengemukakan pendapat bahwa mencintai pemilik dan pemberi hiasan jauh lebih
berharga daripada hanya sebatas hiasannya saja. Seutas lembar surat dan sapu
tangan dari sang kekasih, tidak begitu berarti apabila dibandingkan dengan
pemilik surat dan sapu tangan itu sendiri.
Derajat cinta paling tinggi ialah cinta kepada Sang Pencipta, dan
itulah cinta yang sebenarnya, cinta yang berlandaskan Syari’at Islam. Cinta
yang hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar bucin kepada Tuhan, yaitu para
sufi yang sudah menikmati indahnya dan nikmatnya beribadah kepada Tuhan. Karena
cinta dari seorang sufi muncul sebagai sebuah perwujudan bahwa ruhnya adalah
ruh ilahi yang terkunkung dalam material. Sehingga dia tidak akan pernah merasa
bahagia sampai dia bebas dan bersatu dengan Tuhan.
Sama seperti yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, perempuan
sufi yang memilih hidup tanpa seorang kekasih kecuali Tuhannya. Cerita itu
dimulai ketika ada seorang pemuda yang ingin melamar, seseorang yang ingin
menjadikan dia sebagai kekasihnya karena parasnya yang cantik dan matanya yang
indah. Namun, apa yang terjadi setelah mendengar pernyataan sang pemuda itu?
Rabi’ah al-Adawiyah malah mencukil matanya sendiri dan memberikan kepada pemuda
itu.
Di waktu yang lain, datang seorang pemuda yang berniat untuk
meminangnya juga. Dia akan memberikan mahar yang sangat luar biasa dan akan
memberikan dinar yang tidak sedikit tiap bulannya. Namun, lagi-lagi Rabi’ah
al-Adawiyah tetap menolaknya dan berkata “Sungguh, aku tidak akan merasa senang
jika kau menjadi budakku. Dan semua apa yang kau punya kau serahkan kepadaku,
atau kau akan menarik kecintaanku kepada Allah meskipun hanya sebentar.”
Dan begitulah kira-kira ketika cinta ada pada tempat yang
semestinya. Dia tidak akan pernah membiarkan orang lain memisahkan dia dari
kekasihnya. Dia tidak akan pernah membiarkan orang lain mengusik ketenangannya
saat bersama kekasihnya. Sebagaimana potongan besi yang dimasukkan kedalam
kobaran api tentunya akan merah membara. Pada tahap itulah biasanya si pecinta
akan mengatakan “Akulah Tuhan”, sebagaimana besi dalam kobaran api tadi, andai saja
ia punya kuasa untuk berucap, tentu ia akan berkata “Akulah api.”
Begitulah para sufi memandang cinta dalam kehidupan mereka.
Kehalusan jiwa yang dilakukan oleh orang-orang sufi diperlukan agar agama tidak
dipahami terlalu legal yang biasanya sedikit berbeda dengan kalangan
orang-orang ahli tauhid dan fiqih. Meskipun demikian, konsep cinta dalam
al-Qur’an juga menghendaki keseimbangan antara sisi individual dan sisi sosial.
Cinta yang ada dalam al-Qur’an selalu ditempatkan dalam konteks agar mendapatkan
kebaikan dan keadilan sosial.
Nama : Khairul Atfal
Prodi : Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir
Fakultas : Ushuluddin dan Filsafat
Angakatan
Di UKPI : 2021

Komentar
Posting Komentar