Kalau aku meninjau lalu datang kemarau
Sawah-sawah kering, padipun gugur bersama angin
Hanya mata airmu ibu, yang tetap lancar mengalir
Bila aku membaca
Sedap kopyor masakanmu dan ronta kegelisahanku
Di hati ada mayang siwalan menitihkan
Sari-sari kerinduan
Lantar hutangku tak mampu kubayar
Ibu adalah singgah sana hatiku
Dan ibulah yang mendoktrinku
Saat mawar menyerbak bau kasih sayang
Ibu menunjuk keatas, kemudian kebawah
Aku berangguk meski kurangku pahami
Bila kasihmu ibarat semesta
Sempit alam teduh
Tempatku bersuci, menyuci lumut pada diri
Melempar, tertampar tak uji bagimu
Laut meredam marah sang hati, tak kuasa menahannya
Kejernihan air matamu
Menyejukkan sang buah hatimu
Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibukah itu, bidadari yang berselendang biangwajah
Sesekali kehadapanku biar kutahu sedihmu
Menyerahkan, menggambar langit biru dengan sajakku.
Nama :
Muhammad Hikmal yazid
Prodi :
Sastra Indonesia
Fakultas :
Fakultas Adab dan Humoniora
Angkatan di UKPI : 21

Komentar
Posting Komentar