PERLAHAN-Puisi




 PERLAHAN


/1/

Pada satu perjumpaan

Antara malam dan langit-langit temaram

Antara jiwa dan selayang realitas waktu

Aku karam terpaku, menghampa

Menggumam: “Mengapa harus aku?”


Orang-orang datang membantu

    Berbisik dalam hati meragu

Orang-orang setia membantu

    Mengulum keluh di lain waktu

Orang-orang lelah membantu

    Membuat serapah kalap di balik laku


“Ya Allah, bukankah aku masih terlalu muda

untuk menderita seperti ini

sampai mesti menyerah dan mengorbankan segalanya?”


/2/

Desak negasi menyeruak

Membakar raga fana nan ringkih

Mencekam ruas-ruas kaki yang terpaksa berbaring

–dan tak mungkin untuk melangkah lagi.

Inilah aku

Dengan tangan rapuh yang masih mengais-raih angan

Dengan tangis rintih yang tak lantas redam-padam


/3/

Orang-orang benar

Waktu tak pernah kembali 

Waktu tak pernah!

Sedang aku adalah (tetaplah) aku

Karena itu, lupakan masa yang sudah-sudah

Lupakan dan hiduplah di sisa waktu ini


Aku kan coba menerimanya meski sulit

Aku kan bangkit kapanpun kuterjatuh dalam tiada

Menjalani detik demi detik, hari demi hari

Dengan senyum lebar yang mengakar tulus di hati

“Aku percaya bahwa Allah takkan menguji manusia 

melebihi apa yang menjadi batas kemampuannya.”

(Aku kan mencintai diriku yang sekarang, esok, 

dan jauh di masa depan kelak!)


Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan dalam e-book antologi puisi “Imajinasi Dalam Aksara –Kumpulan 50 Puisi Terbaik” oleh HIMAPRODI BKI UINSA pada tahun 2021.

Nama    : Irena Dyah Kristina

Prodi    : Sosiologi

Fakultas: FISIP

Angkatan di UKPI: 20

Komentar