Makside - Puisi

 



Massa aksi di hari itu bagaikan sosok hewan tanpa fikiran.

Poster maupun banner bagaikan pamflet potongan harga di hari-hari besar.

Massa yang berjejer di bawah teriknya matahari di hari itu,

laksana nasi sisa yang dijemur oleh kebanyakan ibu rumah tangga.

Raut, ekspresi, dan kondisi mereka mirip seperti anak lulusan TK yang tak paham akan fisika.


Keadilan untuk rakyat! Keadilan untuk rakyat! Keadilan untuk rakyaaatt!

Seruan itu membekas di kuping pedagang asongan maupun pejalan kaki yang tak tahu apa-apa.


Bendera dikibarkan setinggi mungkin.

Nyali diuji sekeras mungkin.

Negosiator merundingkan esensi aksi secantik mungkin.

Akan tetapi, karakter suci dibiarkan membusuk, sebusuk mungkin.


Oleh :Kerabat Rafi F.

Komentar