Berapa lama lagi
Aku harus menghela nafas diri
Di sela-sela perbendaharaan awan
Yang terserak, menyatu, lalu memencar kembali?
Berapa lama lagi
Aku harus memendam pedih-perih
Kala terpaku tatap pada pendaran mentari
Yang menyisakan aroma hening dalam ironi?
Berapa lama lagi
Aku harus menahan detak hampa
Di saat melihat koloni semut bersejajar
Yang tak perlu beradu dengan layar demi menggelar harmoni ?
Berapa lama lagi
Aku harus membungkam debur rindu
Kala persuaan sebatas harap
Yang menjadi serangkai bual tanpa akhir?
Berapa lama lagi
Aku harus mengulum derai tangis
Kala tersungkur dalam ribaan sujud
Yang terasa pilu menyayat ditelan sunyi?
Cukup, Tuhan, berapa lama lagi?
Oleh : Kerabati Irena D.

Komentar
Posting Komentar