WISATA SETIGI PENYELAMAT EKONOMI DESA - ESAI

 Perekonomian desa merupakan tolak ukur bagi kesejahteraan masyarakatnya. Sektor pariwisata menjadi sektor yang paling menjanjikan untuk meningkatkan pembiayaan ekonomi masyarakatnya pada saat ini. Setigi adalah wisata baru yang letaknya di bagian utara kota Gresik yang mampu merubah segala aspek desanya. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana menimbulkan adanya perubahan budaya baru dalam masyakatnya. Pembangunan wisata ini seiring dengan berjalannya waktu mampu memperngaruhi perubahan infastruktur pola pemukiman desanya. Jika sepuluh tahun yang lalu desa ini terkanal dengan banjirnya, maka ditahun sekarang desa ini terkanal dengan pertumbuhan ekonominya. Luasnya lapangan pekerjaan di desa tersebut menyerap banyak kaum muda untuk bekerja di wisata tersebut.


Dunia pariwisata memang tidak bisa terkikis oleh waktu. Perkembangan pariwisata di Indonesia sendiri sudah sangat baik dari segala aspek. Pariwisata sendiri merupakan industry non-migas yang dijadikan sebagai leading sector atau sektor andalan guna mengahsilkan devisa di beberapa negara di dunia dan Indonesia menjadi salah satunya.1 Pariwisata juga merupakan salah satu sektor industri yang mengarah pada pembangunan dan juga sebagai penggerak roda perekonomian yang tidak terlepas kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sebagai pembangunan nasional. Pembangunan sektor pariwisata berkelanjutan harus benar-benar mampu di implementasikan ke dalam kehidupan masyarakatnya.


Menurut United Nation World Tourism Organisation (UNWTO) yang di maksud dengan pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sehingga mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan estetikanya, serta memelihara integritas kulyural, proses ekologi maupun esensial, keanekaragaman hayati dan juga sistem







  1. Nengah Subadra dan Nyoman Mastiani Nadra, Dampak Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Lingkungan Pemngembangan Desa Wisata di Jatiluwih-Tabanan, Jurnal Manajemen Pariwisata, Vol.5 No.1, 2006, hlm 47.

pendukung kehidupan.2 Dari pengertian tersebut secara implisit menjelaskan bahwa jika sebuah wilayah yang ingin berkecimpung ke dalam sektor industri pariwisata maka harus memperhatikan beberapa aspek yang akan mempengaruhinya seperti dari segi aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.


Desa wisata adalah salah satu topik yang ramai diperbincangan oleh banyak kalangan akhir-akhir ini. Desa wisata sendiri merupakan kawasan pedesaan yang disulap menjadi tempat yang menarik dan menjadi tujuan wisata. Menurut Priasukma dan Mulyadin (2001), definisi desa wisata adalah kawasan pedesaan yang menyajikan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dilihat dari sisi kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, kehidupan sehari-harinya, dan juga memiliki ciri khas arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desanya.3 Tradisi dan budaya yang masih asli akan menjadi nilai tambah bagi desa wisata tersebut. Adanya wisata desa juga sangat berpengaruh positif bagi warga serta lingkunganya. Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, luas lapangan pekerjaan menjadi salah satu dampak positif adanya wisata desa. Tata kelola desa yang dijadikan sebagai objek wisata juga akan berpengaruh seiring dengan tahapan pembangunan wisata tersebut. Dengan adanya wisata desa ini juga akan sangat berdampak pada kehidupan masyarakat setempat, ada yang mau menerimanya dengan baik tapi tidak jarang ada yang merasa terganggu akan adanya wisata di desanya. Terbukanya lapangan pekerjaan yang luamayan banyak di sektor pariwisata desa ini membuat para kaum muda yang mulanya mereka sebagai pengangguran sekarang mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.


SETIGI, “Selo Tirto Giri” adalah salah satu wisata desa yang terletak di Desa Sekapuk, Kecamatan, Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Wisata desa ini di bangun di atas bekas tambang galian C. Kawasan Setigi merupakan wisata desa yang dikelola langsung oleh pemerintah desa tersebut. Wisata Setigi juga merupakan tempat wisata yang berkonsep Instagramable dan ini sangat pas sekali untuk kalangan anak muda. Di samping itu, wisata ini menyajikan pemadangan alam buatan tetapi tidak mengurangi nilai estetika budayanya. Kawasan Setigi mempunyai karakteristik geografis yang khas, letaknya yang membentang di atas bekas tambang kapur menambah nilai keasrian dan keindahannya. Pengembangan Objek Wisata Setigi pada akhirnya




  1. Rafiqi Ihsan, dkk, Studi Komparatif Pariwisata Halal dan Pariwisata Berkelanjutan (Suatu Kajian Pemikiran Ekonomi Islam Tentang Pariwisata), Proceeding Semnas Pariwisata, 2019, hlm 100.


  1. Soetarso Priasukmana, dan R. Muhammad Mulyadin, Pembangunan Desa Wisata : Pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah, Jurnal Sosial Ekonomi, Vol.2 No. 1, 2001, hlm 38.


tidak hanya bertujuan membawa keuntungan bagi dunia pariwisata saja, tetapi itu juga berdampak pada pola tata ruang pemukiman yang ada di sekitarnya juga. Semenjak adanya pembangunan Setigi infrastruktur di desa Sekapuk diperbaiki guna menyesuaikan dengan adanya wisata tersebut. Masyarakat desa setempat sebagian besar bermata pencaharian sebagai penambang batu kapur, akan tetapi semenjak adanya wisata tersebut mereka banyak yang beralih profesi bekerja di wisata tersebut khusunya para pemuda yang awalnya sebagai pengangguran kini sebagian besar sudah berkerja di sektro tersebut. Peningkatan kesejahteraan hidup masyaralat desa Sekapuk sudah direalisasikan semenjak adanya wisata tersebut. Masalah kemiskinan dan juga pertumbuhan ekonomi desa juga sudah teratasi dengan baik.


Pola pemukiman di Desa Sekapuk menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke wisata Setigi. Pola pemukiman persegi layaknya pola pemukiman yang ada diperkotaan menjadi ciri khas tersendiri bagi desa ini. Munculnya peradaban baru, topografi yang berubah, dan juga tata kelola ruang yang tidak menampik kemungkinan bahwa desa ini akan menjadi kandidat sebagai kota baru. Jika di kota merupakan tempat yang sangat penting dari segi segala aspek, maka desa ini juga sudah mulai merangkak menuju perbaikan dari segi perbaikan infastrukturnya, akses jalannya, pola pemukimannya, dan juga bentuk topografinya. Perubahan bentuk topografi di wisata Setigi memang berubah, yang mana perubahan tersebut mengarah kepada aspek perbaikan tatanan ruangnya.


Jika dulu sebelum adanya setigi tatanan lingkungan pedesaan ini masih sangat memprihatinkan, lain halnya dengan sekarang yang sudah mulai lebih baik. Sembilan tahun yang lalu Desa Sekapuk masuk dalam kategori desa tertinggal, Indeks Pembangunan Manusianya sangat rendah, kemiskinan dan pengangguran masih banyak, tatanan lingkungan yang kumuh, banjir setiap kali ada hujan turun, dan sampah masih dibuang sembarangan. Tetapi, dua tahun berjalan ini Desa Sekapuk sudah mulai mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari segala aspek. Peningkatan tersebut mulai dari aspek ekonominya hingga sosial-budayanya.


Dalam sebuah proses pembangunan baik itu dalam lingkup wilayah pedesaan juga harus memperhatikan masalah kelestraian lingkungan yang berhubungan dengan masyarakatnya. Pembangunan wilayah pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan juga masyarakatnya dalam mengelola sumber daya yang ada sehingga mampu menciptakan

lapangan pekerjaan dan juga mampu merangsang pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.4 Dalam pembangunan wilayah yang berkelanjutan baik itu di sektor pariwisata harus memperhatikan beberapa prinsip guna mengatasi sosial yang ada. Agyemen (2013) menjelaskan bahwa untuk membangun wilayah yang berkelanjutan ada empat prinsip: pertama, mampu menangani kesejahteraan dan kualitas hidup. Kedua, mampu memenuhi kebutuhan para generasi sekarang ataupun generasi penerus yang akan datang. Ketiga, mampu menyeimbangkan kesetaraan baik dari sisi pengakuan, proses, prosedur, dan juga hasilnya. Keempat, mereka mampu hidup dalam batasan ekosistem yang baru.5 Jika prinsip tersebut mampu diterapkan dalam tatanan suatu wilayah maka wilayah tersebut mampu berkembang menjadi lebih baik. Tetapi, terlepas dari itu kendala dalam mencapai suatu wilayah yang berkelanjutan pasti ada, baik itu dari segi sosial masyarakatnya maupun strategi pelaksanaan kebijkannya.


Sebagai wilayah pedesaan yang kental dengan adat istiadatnya Desa Sekapuk mampu memberikan kontribusi terhadap warganya dari segi penataan pemukiman. Di tahun 2018 pemerintah desa sekapuk membuat program Go-tri yang mana dalam program tersebut setiap warganya di beri alat biopori agar air hasil aktivitas rumah tangga masyarakatnya bisa terserap ke dalam tanah dan guna mencegah banjir. Menjadi desa yang menuju ke proses perubahan lebih baik memang banyak mendapat tantangan yang cukup berat, bagaimana desa tersebut mampu menjadikan wilayahnya tetap menjaga kelestarian ekosistemnya dan juga mampu meningkatkan kualitas sumber dayanya yang ada. Dampak adanya pembangunan wisata setigi lebih mengarah kepada dampak positif daripada dampak negatifnya. Jika dilihat dari sisi aspek lingkungan bahwa wisata tersebut banyak berkontribusi didalamnya, yang mana tempat wisata tersebut yang dulunya dijadikan oleh warga setempat sebagai tempat pembuangan sampah kini menjadi tempat yang menghasilkan uang. Disamping itu, ada perbaikan tatanan ruang di sekitar wisata tersebut seperti adanya penanaman pohon di sekitar area wisata yang akan menjadi penyeimbang tatanan lingkungan di sekitarnya. Tetapi, tidak menampik kemungkinan bahwa ada dampak negatifnya jika ditelaah lebih dalam lagi, contohnya semakin banyak wisatawan yang berkunjung maka akan







  1. Hailuddin, dkk, Integrasi Wilayah Secara Ekonomi dan Spacial Serta Dampaknya Terhadap Pembangunan Daerah di Lombok Barat NTB, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 2 No. 1, 2020, hlm 53.


  1. Vanesa Castán Broto, Green City Promises and “Just Sustainabilities”, (Rachel Carson Center: 2020), No.1 pp. 55-56, hlm 57.


menambah jumlah bayaknya sampah yang dihasilkan oleh wisata tersebut. Dan hal ini jika tidak ditangani dengan bijak akan menjadi masalah yang serius terhadap tatanan lingkungannya.


Shock culture adalah salah satu masalah yang sering ditemui di suatu tempat atau daerah yang mana daerah tersebut mengalami peradaban budaya baru yang disebabkan oleh beberapa faktor. Munculnya wisata baru juga salah satu yang menyebabkan adanya kekagetan budaya antar warganya. Masyarakat desa setempat pada awal-awalnya mereka tidak sedikit yang mengeluh akan aktivitasnya yang terganggu karena banyaknya lalu lalang manusia dari berbagai kota guna berkunjung ke wisata setigi. Banyaknya wisatawan manca daerah yang berkunjung ke wisata setigi jika dilihat dari sisi aspek lingkungan maka aka ada dampak negatifnya, seperti meningkatnya polusi udara di desa tersebut, sebagai solusi atas masalah tersebut pemerintah desa sudah menyiapkan strateginya dengan menggencarkan program penanaman pohon di awal pembangunan wisata tersebut.


Tingkat kesejahteraan suatu daerah bisa dilihat dari pertumbuhan ekonominya. Jika pertumbuhan ekonomi daerah tersebut cukup baik maka tingkat kesejahteraan masyarakatnya juga ikut baik. Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat terjadi jika peran pemerintah dan warganya mampu bekerja sama dan punya tekad untuk melangkah menuju perubahan. Pemberantasan kemiskinan melalui sektor pariwisata adalah cara yang sudah tepat dilakukan. Tetapi, terlepas dari itu harus memperhatikan juga langkah selanjutnya agar sektor ini masih bisa jalan stabil. Inovasi dan renovasi terus dilakukan di wisata tersebut guna menjadi wisata yang tetap menjaga keasriannya dan juga mampu menjaga daya tarik wisatawan untuk berkunjung kesana. Luasnya lapangan pekerjaan yang disediakan di sektor wisata setigi ini akan mengurangi kegiatan urbanisasi warganya. Jika semula warganya ingin berpindah ke kota guna mencari pekerjaan yang layak, maka sekarang mereka sudah bisa mendapatkannya di wilayah tempat tinggal mereka.

DAFTAR PUSTAKA


Broto, Vanesa Castán. 2020. Green City Promises and “Just Sustainabilities”. Rachel Carson Center. No.1 pp. 55-56.


Hailuddin, dkk. 2020. Integrasi Wilayah Secara Ekonomi dan Spacial Serta Dampaknya Terhadap Pembangunan Daerah di Lombok Barat NTB. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 2(1).


Ihsan, Rafiqi dkk. 2019. Studi Komparatif Pariwisata Halal dan Pariwisata Berkelanjutan (Suatu Kajian Pemikiran Ekonomi Islam Tentang Pariwisata). Proceeding Semnas Pariwisata.

Priasukmana,  Soetarso  dan  R.  Muhammad  Mulyadin.  2001.  Pembangunan  Desa  Wisata  :


Pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah. Jurnal Sosial Ekonomi. Vol. 2(1).


Subadra, Nengah dan Nyoman Mastiani Nadra. 2006. Dampak Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Lingkungan Pemngembangan Desa Wisata di Jatiluwih-Tabanan. Jurnal Manajemen Pariwisata. Vol.5(1)


Oleh Kerabati Aidah Kamaliah

Komentar