Secara geografis pada masa itu Yunani memiliki daratan yang mencakup Asia Minor, Aleksandria, Mesir, Sisilia dan Italia. Akan tetapi yang berhubungan secara langsung dengan filsafat bukanlah kondisi geografisnya, melainkan agama dan mitos yang telah ada sejak lama di Yunani. Tradisi agama Yunani secara garis besar terbagi menjadi dua aspek, yaitu: 1. Aspek antropomorfis tentang dewa-dewa Olympus yang diperkenalkan dalam melalui tulisan-tulisan karya Homerus yang mengisahkan bahwa para dewa memperlihatkan kekuasaannya, memiliki nafsu dan kepentingan-kepentingan sebagaimana manusia, 2. Aspek kebiasaan pemujaan yang bersifat misteri.
Aspek antropomorpisme yang telah ada sejal awal, terus berkembang dan mencapai kuminasinya pada abad ke lima dan ke empat sebelum Masehi dan dari perkembangan ini menghasilkan relasi dengan filsafat. Agama Olympus yang berisi kepercayaan mengenai dewa-dewi, mempengaruhi filsafat meskipun itu hanya dalam hal penciptaan konsepsi yang secara bebas dikembangkan filsafat. Konsepsi yang dibangun oleh Homerus mengenai dewa-dewi melalui karyanya, kemungkinan dalam sikap intelektual menghasilkan filsafat awal Yunani yang berkonsep naturalistik-kosmologis. Pada kira-kira abad ke enam SM, terjadi kebangkitan rasa beragama di Yunani yang bisa dilihat dari bentuk pemujaan yang bersifat misteri. Meskipun Homerus tidak memasukkan adanya pemujaan dalam karyanya, akan tetapi masyarakat Yunani justru mulai memasukkan dewa-dewi tersebut kedalam aspek perjuangan nasib. Sehingga para dewa tersebut memperoleh panggung dalam upacara-upacara kegamaan masyarakat.
Mitos kemudian berubah menjadi kekuatan baru yang bisa berbicara tentang banyak hal, seperti tentang asal-usul alam dan manusia, tentang para dewa dan kekuasaan mereka atas alam dan manusia, tentang upacara-upacara untung mengagungkan para dewa, dan juga tentang penyucian diri dari dosa serta hidup sesudah mati. Kisah bangsa Yunani mulai muncul sekitar tahun 1100 SM ketika ada sekelompok orang yang menggunakan bahasa Yunani untuk menaklukkan bangsa Minoa. Dari penaklukan tersebut mulailah terbentuk wilayah-wilayah yang dikemudian massa menjadi wilayah kekuasaan Yunani. Kebudayaan Yunani yang lekat dengan mitos-mitos dan hal ini juga terlihat pada kebiasaan mereka untuk memuja kebesaran Dewa dengan berbagai upacara sebagai cara untuk menghindari kemarahan dari para Dewa yang mereka puja. Latar belakang budaya seperti itulah yang kemudian mendorong Thales untuk melontarkan protes atas model mitologis yang telah membudaya dikehidupan masyarakat Yunani pada masa itu. Thales menghimbau kepada manusia, bahwa seharusnya mereka menggunakan penalaran rasional, dan menanggalkan mitologis dalam upaya untuk menjelaskan dunia. Karena keberaniannya dalam menentang konsepsi mitologis yang telah turun-temurun hadir di tengah masyarakat Yunani dan menggantikannya dengan cara berpikir rasional, mengantarkan Thales sebagai sosok perintis filsafat yang pertama di dataran Yunani. Thales berangkat dari pertanyaan, dari apa alam ini dibuat? dari pertanyaan tersebut, Thales menjawabnya dengan mengajukan sebuah tesa yang mengatakan bahwa “air” adalah materi dasar dari alam ini. Teori Thales ini kemudian mendapatkan pertentangan dari kedua muridnya yang tidak bisa menerima pendapat dari gurunya tersebut. Dari pertanyaan sederhana mengenai dasar dari alam semesta, Thales membuka gerbang pertama bagi munculnya filsafat yang dikemudian masa semakin berkembang dan melahirkan berbagai macam hasil pemikiran yang merubah sudut pandang masyarakat Yunani terhadap alam semesta ini.
Lembaran awal dimulainya pemikiran rasional yang tidak dipengaruhi unsur mitologis di Yunani diprakarsai oleh seseorang yang bernama Thales (625-545 SM). Perjalanan awal filsafat Thales berangkat dari pertanyaannya mengenai materi dasar penyusun alam semesta. Ia memulai hipotesanya dengan mendasarkan pada fakta yang diketahuinya bahwa terdapat banyak sekali jenis segala sesuatu yang berbeda-beda seperti tanah, awan, udara, api, samudra dan bahwa diantara segala sesuatu tersebut dapat berubah dari satu wujud ke wujud yang lain serta mampu membentuk sesuatu yang baru dengan cara tertentu. Dalam pemikiran filsafatnya Thales mengatakan bahwa terdapat sesuatu yang bersifat dasar, tunggal, dan satu yang menjadi penyatu dari berbagai benda. Air oleh Thales dipilih sebagai perwujudan dari dasar yang tunggal dan satu, dan ia menganggap bahwa air sebagai materi dasar dari segala sesuatu.
Berbeda dengan Thales, Anaximander atau Anaximandros (610-540 SM) berpendapat bahwa substansi dasar yang menjadi awal dari keberadaan sesuatu adalah Apeiron atau sesuatu yang bersifat tidak terhingga. Teori tersebut dikemukakan oleh Anaximander karena menurutnya teori air sebagai materi dasar dari segala sesuatu yang dikemukakan oleh gurunya yaitu Thales tidaklah tepat, karena ia menganggap bahwa air hanyalah sebatas unsur primer dan bukan asal dari segala sesuatu. Dalam penjelasannya mengenai teori apeiron sebagai asal-usul alam semesta, Anaximander menyatakan bahwa apeiron memiliki gerak yang kekal. Dari gerak yang kekal itu, kemudian menghasilkan suatu konsekuensi yang menyebabkan beberapa elemen yang ada itu menjadi terpisah dari asalnya, dan karena itu, di sana selalu terdapat gerak kekal yang kemudian memicu terciptanya benda-benda angkasa. Sebagai contoh, panas dan dingin adalah dua elemen yang terpisah yang kemudian dari dua elemen tersebut menghasilkan lembab, dan dari lembab muncul bumi dan udara. Dan gerak kekal tersebut kan menghasilkan elemen-elemen tertentu yang kemudian berproses dan berubah menjadi sesuatu yang ada.
Anaximenes (538-480 SM) sebagai salah satu murid Thales selain Anaximander, memiliki argumen lain mengenai susbtansi dasar yang menjadi awal dari alam semesta. Ia beranggapan bahwa udara merupakan materi awal. Teori ini berangkat dari ketidakpuasan Anaximenes terhadap pendapat Thales dan Anaximander. Bagi Anaximenes, teori air yang dikemukakan oleh Thales cenderung lebih finite atau terbatas, sedangkan apeiron yang merupakan teori Anaximander cenderung lebih infinite atau tidak terbatas. Sehingga Anaximenes menginginkan sebuah teori substansi yang lebih definite atau pasti yang didalam juga terdapat unsur finite dan infinite. Dari keinginan tersebutlah kemudian Anaximenes memilih udara. Baginya udara itu memiliki sifat infinite karena bisa bergerak secara bebas kemana-mana, akan tetapi juga tidak sepenuhnya infinite karena udara bisa diidentifikasi sehingga juga memiliki sifat definite. Cara mengidentifikasi keberadaan udara yang kasat mata, yaitu dengan mengamati bahwa manusia itu mampu untuk bertahan hidup dengan cara bernafas, dan manusia dapat bernafas jika terdapat udara disekitarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika udara itu tidak ada, maka manusia tidak dapat bernafas dan akan mati.
Berbeda dengan trio Milesia tadi, seorang pria kelahiran Samos yang bernama Pytagoras (580-500 SM), berpendapat bahwa segala sesuatu itu terdiri dari angka. Teori ini berbeda dengan apa yang telah diungkapkan oleh para filsuf Milesia yang memiliki ide mengenai susbtansi primer atau materi awal sebagai dasar dari segala sesuatu menjadi ada. Menurut Pytagoras, form atau batasan-batasan hanya dapat dipahami secara spesifik menggunakan angka. Bagi Pytagoras, angka itu merupakan prinsip dari segala sesuatu dan bukan sebagai materi atau susbtansi dasar, melainkan entitas yang membentuk struktur formal atau relasi-relasi. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan imitasi dari angka. Konsep form dan matter ini yang kemudian nanti menjadi bagian utama dari filsafat Plati dan Aristoteles.
Filsuf selanjutnya yaitu Heraklitus (540-480 SM) yang membawa pendapat baru terkait dengan materi dasar alam semesta. Fokus filsafatnya tertuju pada problema yang baru, yaitu mengenai perubahan. Heraclitus menjelaskan perubahan tersebut dengan mengatakan bahwa “segala sesuatu dalam keadaan mengalir” dan konsep perubahan yang ia kemukakan tersebut bersifat konstan, terbukti dari pernyataannya yang berbunyi “kamu tidak dapat menceburkan diri di sungai sama sebanyak dua kali”, menurut Heraclitus air sungai akan selalu berubah karena adanya proses mengalir. Untuk mempertegas teori perubahannya, Heraclitus menunjuk api sebagai materi awal dari alam semesta. Heraclitus beranggapan bahwa api merupakan bentuk dari proses transformasi dan dari transformasi tersebut terciptalah sesuatu yang lain. Selain itu dalam pandangan filsafatnya, Heraclitus juga mengatakan bahwa akal sebagai hukum universal. Proses berubahan yang terjadi di alam semestas merupakan produk logos atau akal Tuhan yang universal. Ide ini muncul karena keyakinan Heraclitus bahwa sesuatu yang sungguh-sungguh real atau nyata adalah jiwa, dan sifat dari jiwa adalah kebijakan dan pemikiran. Api oleh Herclaitus dikonsepsikan sebagai Tunggal atau Tuhan atau Tak Terhingga.
Heraclitus yang menyatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah gerak terus menerus, dan juga menyatakan bahwa tidak ada yang permanen mendapatkan pertentangan dari Parmenides seorang filsuf dari mazhab Elea. Menurut Parmenides, prinsip dari perubahan haruslah permanen, tidak bergerak, dan tidak pernah berubah. Masih dari lingkaran mazhab Elea, Xenophanes menyatakan bahwa sifat permanen Tuhan merupakan awal mula dari perubahan yang terjadi di dunia ini. Masih dari lingkaran mazhab Elea, Zeno dari Melissus yang merupakan pendukung dari teori permanen mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah the one yang memiliki sifat infinite, tidak bisa dibagi-bagi dan tidak berubah-ubah. Mazhab Elea kembali menyumbangkan pemikiran dari seorang tokohnya yang bernama Alcameon. Dalam teori pengetahuannya, Alcameon mengatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui dua unsur, yaitu indera dan pemikiran rasional. Sedangkan Zeno dalam teori pengetahuannya mengembangkan “metode dialektika”. Metode ini berangkat dari asumsi bahwa argumen itu benar dan kemudian kita berperan sebagai lawannya.
Setelah selesai membahas filsuf dalam lingkaran mazhab Elea, sekarang saatnya berpindah ke kaum skeptis. Xenophanes (570-480 SM) merupakan seroang filsuf yang beraliran skeptis dalam bidang epistemologi akan tetapi ia juga merangkap jadi seorang teologian. Sebagai seorang skeptis, Xenophanes mempercayai bahwa pengetahuan tentang Tuhan dan hakikat alam tidak mungkin bisa dicapai oleh akal manusia. Meskipun begitu ia juga mengatakan bahwa manusia bebas untuk memiliki pendapat tentang Tuhan dan ia juga percaya bahwa dengan cara merenung yang begitu mendalam maka kebenaran akan muncul. Pandangan Xenophanes mengenai Tuhan adalah sebagai berikut: Tuhan itu satu, serta berbeda dari makhluk yang pasti mati baik itu fisik maupun psikisnya. Tuhan menempati tempat tertenu dan tidak bergerak sama sekali. Tuhan dapat mengetahui dan juga mendengar segalanya. Tuhan bersifat kekal, abadi, dan tanpa permulaan serta akhir. Tuhan tidak terbatas dalam arti bahwa tidak ada sesuatu yang mampu berada di samping-Nya, menyerupai-Nya, akan tetapi Tuhan juga terbatas dalam artian Dia adalah form yang sempurna, dan tidak bersifat infinite yang formless.
Komentar
Posting Komentar