Di kala teriakan sunyi
Memukul Gelap hati para penolak benar
Barangkali Bulan pun tak sudi melihatmu
Menjadi pengagum para pemilik kebohongan
Maka,
Bawalah redup jiwaku ini sang pualam kuning
Cahaya yang di kenal arif dan santun
Kini kami tak di kenal lagi
Buat apa aku bilang pada bongkahan congkak padai menutup wajah
Hempaskanlah saja aku di kolam pekat bercampur darah
Kalau kau mau mulut benar ini Mati dalam sasaran peluru serbu mu
Itupun kau lakukan
Jika tak pandai berkata-kata dan bersembunyi di balik kata
Ya,..
Kata rumit yang slalu memberikan kepastian,
Bercampur Nada-nada perbedaan
tapi ingat sajalah
kami masih punya tuhan pemilik langit
meneropong jau jejak langkah tak berkutik,
Jujur...jujur...dan kau bilang jujur...
Bohong...bohong...dan slalu kau bohong...
Kalau benar itu pahit di rasa
Janganlah lupa ,bahwa ada nun jauh di sana
Lalu kau sisakan kami hidup sendiri dalam kesalahan
Seolah-olah kami tlah berbuat
Mau apa hati kecil tak berekspresi ini !
Kau bisa musnahkan kami
Tapi itu tak membuat kami sirna dalam keterasingan kami
Ku percayakan Kepalan tangan ini
Yang bisa menyembuhkan derita dan lara
Hanyalah doa kapadamu lah ya..Robbi
“di saat kita memandang kebesaran mu lah
Angin berhembus
Itulah wujud haq mu “
Sebagaimana aku tidak akan melihat angin
Tapi ,gumpalan angin di sertai hawa sejuk
Terdengar semilir mebasahi pipi
Membuat air mengalir sampai ke ujung pipi
Saat itu lah pesan bahagiah menerpa dalam relung relung jiwa dan raga
Yang kini kembali meyeruap kearah kami
Ketika pandangan ke depan
Sabar adalah kunci
Tuk jadi padang luas yang tak tandus oleh duka
Kini ku kumpulkan kembali
Puzzle kebenaran yang hilang dari ku dan kami semua
Tersimpan dalam kubur dan ku sisakan untuk tunas yang baru
Untuk hadapi dunia sejauh mata memandang
Di sertai hawa bak dingin menerpa
.
Oleh : Kerabat Abdul Rosyid Al Amin
Prodi : Sejarah Peradaban Islam
Angkatan : 17
🍁Pena Karya Departemen Kepenulisan
Komentar
Posting Komentar