1. PENDAHULUAN
Sejak virus Covid-19 menyebar di seluruh dunia termasuk
di Indonesia, banyak masyarakat mulai terjangkit virus tersebut.
Setiap hari data positif Covid-19 terus bertambah, meskipun
pemerintah di beberapa daerah rawan sudah menerapkan peraturan
kesehatan ketat dan juga Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB). Dihitung sejak hari ini, menurut CNN 488,310 orang
dinyatakan positif. Banyak faktor yang menyebabkan penyebaran
virus ini begitu cepat, salah satunya yaitu kebiasaan masyarakat
untuk berkerumun atau berkumpul dalam jumlah besar. Hal ini
membuat penyebaran virus Covid-19 menjadi tidak terkendali lagi.
Pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan virus sudah
meluncurkan berbagai kebijakan seperti PSBB, lockdown, work
from home, study from home dll. Akan tetapi meskipun
pemerintah sudah membuat berbagai macam progam untuk
menekan pertumbuhan virus, beberapa oknum masyarakat tetap
saja tidak mentaati peraturan tersebut. Permasalahan ini tentunya
tidak hanya berasal dari pemerintah saja tetapi juga dalam diri
masyarakat itu sendiri. Problem tingkah laku, etika, moral dan hati
nurani menjadi salah satu permasalahn yang harus ditemukan
solusinya oleh pemerintah dan juga masyarakat. Salah satu teori
yang membahas terkait dengan tingkah laku adalah teori
pengelolaan kelakuan yang dikemukakan oleh Byrrhus Frederic
Skinner. Diharapkan dengan adanya teori ini, pemerintah dan juga
masyarakat bisa menarik solusi untuk mengatasi kecenderungan
tingkah laku berkumpul dalam masa pandemi virus Covid-19
seperti ini sehingga angka peningkatan positif bisa ditekan atau
bahkan dihilangkan.
2. PEMBAHASAN
Munculnya virus Covid-19 yang dimulai dari China lalu
menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia, membawa
problematika ditengah-tengah masyarakat. Kehidupan yang semula
normal, berubah menjadi keresahan, kekacauan dan keterpurukan
di berbegai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dll.
Bersumber dari Worldometers, sampai hari ini kasus positif
Covid-19 di seluruh dunia mencapai 58 juta dengan kasus
kematian 1,3 juta. Besarnya kasus penyebaran virus Covid-19,
menjadi problematika bagi seluruh dunia, permasalahan ini
mendorong pemimpin-pemimpin dari berbagai negara untuk
membuat kebijakan-kebijakan yang bisa mengurangi intensitas
pertumbuhan virus tersebut. Indonesia sendiri bersumber dari
Wikipedia telah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB) sejak 8 bulan yang lalu. Dengan diluncurkannya aturan
tersebut, pemerintah berkeyakinan bahwa laju pertumbuhan virus
akan terkontrol. Akan tetapi dalam kenyataanya tidak, karena
semakin hari pertumbuhan kasus positif virus Covid-19 justru
semakin bertambah. Apakah dalam kasus ini aturan PSBB dari
pemerintah dianggap gagal? Tentunya tidak, aturan dibuat untuk
dilaksanakan dan ditaati tidak hanya oleh pemerintah saja akan
tetapi juga masyarakat. Apabila salah satu dari kedua elemen
tersebut tidak memahami dengan jelas atau tidak mentaati
peraturan tersebut, maka realisasi dari tujuan awal peraturan
tersebut dibuat tidak akan pernah tercapai.
Peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),
sebenarnya bisa dengan efektif menekan laju penyebaran virus
apabila ditaati oleh semua elemen. Akan tetapi dalam kasus di
lapangan, masih banyak oknum-oknum masyarakat yang
melanggar aturan tersebut, seperti banyaknya anak muda
nongkrong di café, masih ada beberapa tempat hiburan yang secara
ilegal tetap buka meskipun telah dilarang oleh pemerintah dll.
Kasus-kasus ini dipicu tidak hanya dari kebiasaan masyarakat
sebelum terjadinya pandemi virus Covid-19. Akan tetapi juga
terbentuknya ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah
atau bahkan terhadap virus itu sendiri. Dari beberapa faktor yang
menimbulkan keraguan dalam diri masyarakat dapat diambil dua
penyebab utama. Pertama, adanya oknum pemerintah yang
melanggar protokol kesehatan, hal ini memicu ketidakpercayaan
masyarakat terhadap pemerintah yang dalam praktiknya justru
sebagai pembuat peraturan tersebut. Kedua, munculnya berbagai
teori konspirasi yang belum tentu kebenarannya akan tetapi
dipercayai oleh beberapa masyarakat, hal ini menggiring opini
masyarakat bahwa virus Covid-19 hanyalah buatan elite global
untuk menguasai dunia atau untuk meruntuhkan kekuasaan
pemerintah di suatu negara. Tentunya terlalu dini untuk mengambil
kesimpulan hanya dari kedua penyebab tersebut.
Byrrhus sendiri mengemukakan bahwa ada beberapa faktor
yang mempengaruhi tingkah laku manusia, yaitu keadaan batin dan
lingkungan. Studi tentang tingkah laku manusia merupakan sesuatu
yang rumit. Setiap manusia memiliki kepribadian sendiri-sendiri,
dan dari kepribadian tersebut berpengaruh juga dalam hal
emosional, keadaan batin, perilaku dll.
Pengalaman pertama manusia didasari atas sebab-musabab
yang dihasilkan oleh kelakuannya sendiri. Penyebab awal dari
munculnya kebiasaan seseorang didasari atas pemikirannya. Bisa
dikaitkan dengan keadaan ditengah pandemi seperti ini.
Masyarakat pada awalnya, juga mempercayai adanya virus
Covid-19, akan tetapi dikarenakan adanya beberapa faktor yang
membuat berkurangnya rasa takut masyarakat terhadap virus
Covid-19, hal ini menimbulkan munculnya perasaan aman dalam
diri masyarakat meskipun sedang berada pada posisi yang tidak
dianjurkan oleh pemerintah. Rasa aman inilah yang mendorong
masyarakat untuk tetap melakukan aktifitas seperti biasanya
meskipun sangat rentan untuk terkena virus. Masyarakat merasa
lebih baik melakukan aktifitas seperti biasanya daripada harus
berdiam diri dirumah tanpa menghasilkan sesuatu. Mereka lebih
percaya terhadap rasa aman daripada aturan pemerintah yang
dalam prakteknya ketika dilanggar tidak terjadi apa-apa terhadap
dirinya.
Selain dipengaruhi oleh keadaan batin, tingkah laku
manusia juga dipicu oleh lingkungannya. Pengaruh stimulus
lingkungan, menghasilkan response dari manusia, gabungan
keduanya disebut sebagai refleks. Lingkungan hadir untuk
memperkuat kelakuan manusia. Kelakuan yang sesuai dengan
lingkungannya akan diperkuat secara positif, sehingga manusia
akan mengulanginya secara terus menerus, sedangkan kelakuan
yang tidak sesuai dengan lingkungannya akan diperkuat secara
negatif, hal ini membuat manusia secara perlahan akan tidak
mengulanginya. Teori ini dapat dihubungkan dengan perilaku
masyarakat ditengah pandemi seperti ini. Lingkungan yang
menerapkan protokol kesehatan secara ketat, akan memicu
masyarakat disekitarnya untuk mentaati peraturan tersebut. Akan
tetapi, lingkungan tidak sepenuhnya mempengaruhi perilaku
manusia. Faktor kebebasan dan kehormatan menjadi permasalahan
yang sepertinya sulit untuk dihilangkan kecuali ada sanksi yang
menyertainya jika terdapat pelanggaran. Manusia dengan pangkat
tinggi memiliki kebebasan lebih, dalam mengatur lingkungannya.
Kebebasan ini perlu dikontrol, sehingga tidak menguntungkan
salah satu pihak saja.
Dalam mengatasi permasalahan yang menyertai
diberlakukannya PSBB sejak 8 bulan yang lalu, perlu adanya kerja
sama antara pemerintah dan masyarakat. Dimulai dari pemerintah
itu sendiri, seharusnya bisa mengoptimalisasikan peraturan dengan
cara melakukan survey terlebih dahulu. Survey tidak hanya sebatas
pengumpulan data saja, akan tetapi juga menyerap aspirasi rakyat.
Masyarakat sebenarnya memerlukan pemerintah untuk menjamin
keberlangsungan kehidupannya. Progam-progam yang sudah
dibuat untuk membantu masyarakat harus dimonitor sehingga bisa
disalurkan secara tepat sasaran. Mengarahkan rasa aman
masyarakat dengan cara memperjelas progam-progam atau aturan
yang diberikan. Dengan adanya kejelasan dan kepedulian dari
pemerintah, rasa aman yang semula berasal dari ketidakpercayaan
terhadap aturan beralih kearah ketaatan terhadap peraturan itu
sendiri. Selain itu bagi masyarakat, untuk mengatasi kejenuhan
dirumah bisa dengan cara melatih reflek terhadap lingkungan
sekitar, seperti membuat suasana lingkungan menjadi lebih
nyaman, membuat kebiasaan baru yang lebih bermanfaat seperti
bersepeda, menanam tumbuhan, beternak dll. Kebiasaan-kebiasaan
ini perlahan akan menciptakan kekuatan positif sehingga orang
yang semula masih melanggar akan ikut masuk kedalam lingkaran
ketaatan terhadap peraturan.
3. KESIMPULAN
Substansi permasalahan yang muncul dari diberlakukannya
berbagai kebijakan oleh pemerintah dalam mengatasi penyebaran
virus Covid-19 seperti PSBB, tidak secara mulus diterima oleh
masyarakat. Beberapa faktor yang menjadi penghalang kelancaran
penerapan kebijakan tersebut seperti ekonomi, berita hoax dll,
membuat masyarakat tidak begitu percaya terhadap pemerintah,
sehingga menimbulkan kurangnya ketaatan masyarakat terhadap
aturan yang diterapkan oleh pemerintah. Untuk mengatasi hal ini,
Byrrhus dalam teori pengelolaan kelakuan menjabarkan beberapa
susbtansi yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Tentunya
dalam menerapkan teori tersebut perlu adanya kerja sama antara
pemerintah dan masyarakat. Sehingga penerapan aturan-aturan
protokol kesehatan seperti PSBB yang seharusnya bisa menjadi
pencegah utama penyebaran virus bisa dimaksimalkan kembali
dengan cara mengarahkan kepercayaan masyarakat bukan dengan
peraturan yang ketat atau dengan kekerasan, akan tetapi dengan
cara melihat dua aspek yaitu keadaan batin masyarakat dan
lingkungannya.
Oleh : Kerabat M.Abdul Rosmi Alwi
Prodi : Aqidah dan Filsafat Islam
Fakultas : Ushuluddin dan filsafat
Angkatan : 19
Komentar
Posting Komentar