Seketika, Yukka teringat dengan masa lalunya. Tak sadar, ia mulai bercerita sendiri.
“Yukka, sini! Lihat deh! Lucu banget ga sih?” panggil Rin, teman dekat Yukka, sambil menunjukkan telepon genggam milikinya. Mereka sedang menunggu seseorang di pos depan Rumah Rin.
"Ah, iya! Aku juga jadi pengen.” balas Yukka.
"Hai, Rin, Yukka! Kalian udah nunggu lama? Maaf ya, macet tadi.” sapa Fritz, teman dekat Yukka yang digadang-gadang playboy cap kapak.
“Banget, woi! Panas tau!" balas Yukka dengan nada sebel.
“Aduh, ampun Tuan Puteri. Aku jajanin es krim, deh! Ya? Maafin ya?" permohonan maaf Fritz atas keterlambatannya.
“Bisa aja emang kalo ngerayu. Hu!" ledek Rin.
"Ih, yauda sih. Sirik aja, ah!" balas Fritz tak mau kalah.
“Udah! Makin panas nih mantengin kalian berantem. Yuk cuss." lerai Yukka.
Fritz, Rin, dan Yukka adalah tiga orang yang kenal akrab dari organisasi intra sekolahnya, SMA Negeri 1 Harum Bangsa, sekolah yang hanya berkisar 20 meter dari Rumah Yukka. Walaupun Yukka tidak sekelas dengan Fritz dan Rin, yang merupakan kelas MIPA 2, mereka semakin akrab sebab tergabung pada Sekbid (Seksi Bidang) yang sama, yakni Sekbid Sosial.
Apalagi Yukka adalah anak IPS, hal ini memudahkan ia dalam jalannya organisasi ini. Sedangkan, Fritz dan Rin, mereka hanya patuh apa yang menurut Yukka benar. Kian hari mereka kian akrab. Tanpa disadari, benih-benih cinta di antara ketiganya tumbuh. Sayangnya, salah satu dari gadis tersebut harus menelan pahit karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Makin hari perhatian Fritz makin besar ke Yukka. Apa dia suka dengan Yukka? Tiap melihat Fritz bercanda dengan Yukka, hatiku terasa tercabik. keluh kesah Rin dalam hati.
"Hei, Rin! Kok ngelamun? Cemburu ya liat Aku sama Yukka?” ledek Fritz membuyarkan lamunan Rin.
“Ih, apaan sih, Fritz! Ga lucu tau!" sentak Rin.
Rin kenapa? Nggak biasanya dia seperti ini. ucap Yukka dalam hati.
Di keheningan malam, ditemani gemercik rintikkan hujan Yukka di kamarnya sedang memikirkan kejadian Siang hari tadi. Sikap yang tak biasanya ditunjukkan oleh Rin, tadi ia melihatnya yang sontak membuatnya kaget. Seakan ia bertanya-tanya, mengapa? Apa yang terjadi? Apa ada yang salah dengan dirinya?
Rin, aku merasa kamu berubah. Apa aku salah, Rin? Kenapa?
Pertanyaan yang sedang mengusik pikiran Yukka. Seolah ia merasa sesuatu hal yang telah terjadi. Apa itu? Apa yang tak ia tahu?
Di sisi lain, Rin sedang menangis tersedu sambil mengadu ke depan layar kaca telepon genggamnya. Ia menceritakan keluh kesahnya pada teman-teman sebaya satu kelasnya.
“Apa aku salah kalo aku kesel? Hatiku sakit. Aku tak kuat melihatnya. Apa iya aku cemburu?Kenapa aku bisa cemburu? Apa aku suka Fritz? Bagaimana bisa? Aku dan dia kan hanya teman. Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Rin bertubi.
“Sudahlah, Rin. Untuk apa kau menangisi orang yang sama sekali tak tahu kau menangis untuknya." Ucap Maiya menenangkan Rin.
“Baik. Aku berhenti menangis tapi ada satu syarat. Cari tahu apakah Fritz memiliki hubungan khusus dengan Yukka atau tidak.” pinta Rin.
Suatu ketika, Maiya menghampiri Rin yang sedang duduk dengan tatapan kosong di depan rumahnya. Ia terlihat tergopoh-gopoh dengan berteriak memanggil Rin dengan keras sehingga Rin tersadar.
"Eh, ada apa Mai? Kok sepertinya kamu tergesa? Ada apa?" tanya Rin heran.
“Ini. Anu. Apa. Itu, Rin. Fritz,” jawab Maiya, kemudian disela Rin.
"Kenapa Fritz? Tenang dulu, Mai. Katakan dengan jelas." sela Rin menenangkan.
"Fritz suka sama Yukka! Dan sebaliknya!” jelas Maiya dengan cepat.
“Sudah kuduga.” singkat Rin.
Pada suatu malam, para anggota OSIS SMANIHASA, singkatan untuk SMAN 1 Harum Bangsa, berkumpul untuk persiapan Asrama Ramadan. Kegiatan yang dilakukan sekolah merema tiap Bulan Ramadan tiba yang bertempat di Masjid Al Hubbiy. Suasana sedikit canggung karena Rin yang tiba-tiba bersikap dingin pada Yukka. Lantas Yukka bertanya-tanya mengapa demikian?
Kok Rin mendiamkan Aku, ya? Batin Yukka.
“Eh, Yukka. Sendirian aja, mana Anya dan Putri? Maaf ya, tapi Rin lagi ga mau bicara sama kamu.”sapa Yessie sambil menerangkan kondisi yang terjadi.
Oh begitu, ya? Sudah kuduga. Rin marah denganku soal itu.
Hari dimana telah banyak persiapan yang dirancang selama sepekan ini, akhirnya tiba. Akan tetapi, beragam pertanyaan yang menumpuk di benak Yukka tak kunjung mereda. Terlebih saat acara pembukaan, sikap Rin yang menunjukan semakin menjauh dari Yukka serta dengan ditambahnya ejekan teman sekelas Rin membuat Yukka menjadi lebih banyak diam. Hal ini disadari oleh Fritz, di mana semua masalah berawal darinya, anggap Yukka.
"Yukka, sayang. Kok diem aja? Sakit? Tumben kok ga gabung sama mereka?" tanya Fritz khawatir.
"Eng, gapapa kok Fritz. Aku juga ga sakit kok.” jawab Yukka.
Yukka ga biasanya kayak gini, apa mereka ada masalah, ya? batin Fritz.
Selama acara berlangsung, Yukka menghabiskan waktunya dengan lebih diam dari biasanya, sedangkan Rin dengan kecewanya semakin menjauh dari Yukka. Terlebih ejekan-ejekan yang ikut menghiasi jalannya acara ini.
"Tak ku sangka, dia (Yukka) mengambil Fritz dari Rin. Padahal mereka kan juga sama-sama dekat." bisik Yessie.
“Ah, iya. Bisa-bisanya dia membalas kebaikanmu dengan seperti ini, Rin. Udah tinggalin aja pelakor itu!” imbuh Anya.
"Astaghfirullah, Anya. Itu sepupu kamu sendiri, loh!" sambung Maiya.
Begitulah gunjingan yang terdengar. Mereka tak sadar di pojokan, Yukka mendengarnya. Melihat Yukka sering diam, Putri, teman sekelas Yukka juga sahabatnya bertanya mengapa dia lebih sering diam akhir-akhir ini. Sembari itu, Fritz melihat kejadian yang tak semestinya terjadi, ikut bingung.
“Brandon, gimana ini? Apa aku salah aku suka Yukka? Tapi aku juga ga bermaksud untuk membuat Rin suka denganku. Tetapi dia terasa tersakiti saat aku bersama Yukka.” tanya Fritz ke Brandon, teman sekelasnya dengan Rin juga saudara sepupunya.
“Fritz, kamu gak salah. Tapi tanpa kamu sadari pun perhatian kecil atau perkataan manismu yang kamu tujukan ke Rin secara ga langsung membuatnya menjadi suka ke kamu. Imbasnya, Yukka yang merasa tersakiti di sini. Dia yang tak tahu apa-apa mendapatkan ejakan yang ga semestinya. Baiklah, aku temani kamu untuk menyelesaikan masalah ini. Karena pada dasarnya kamu ga bisa mempertahankan keduanya. Kamu harus pilih salah satu atau tidak sama sekali." panjang lebar Brandon menjelaskan.
Kemudian, mereka memanggil Rin dan Yukka bersama untuk membicarakan masalah yang sedang terjadi. Fritz menjelaskan keadaan bahwa memang ia suka dengan Yukka dan meminta maaf pada Rin jika ia telah menyakitinya. Dia tak bisa memilih satu di antara mereka. Selain itu, Brandon meminta mereka bertiga untuk saling memaafkan. Akan tetapi, Rin menerangkan jika dia tetap tak bisa dekat lagi dengan Fritz ataupun Yukka kembali. Hal itu dapat diterima oleh Fritz dan Yukka.
Seiring bertambah dinginnya angin malam, Yukka tersadar.
“Ya, begitulah kita. Berakhir tanpa sisa. Aku kehilangan sahabat dan cintaku. Tak apa aku sudah biasa.” celoteh Yukka terbangun dari lamunannya.
***
Oleh : Dwi Ariyanti

Komentar
Posting Komentar