Kami hanya berbincang kala malam runtuh
atau mungkin sepanjang waktu
Sepanjang kawan tak henti dihantarkan oleh mereka
yang menerbangkan gurat gelagat
antara lelah, dan pasrah
Kami hanya saling menipu diri
sembari bertanya,
“bagaimana kabarmu, ia, mereka ?”
Kendati ia pun tak yakin
pada mimpinya yang masih menyesak
pada nasib manusia yang sembap mengenangnya
Waktu telah menyingkir
Bungkam merantai raga
Sedang kami tak sempat mencecap apa-apa setelah semua!
Sial! Sial. Sialan..
Dunia itu kembali
walau mungkin tak serupa
Setengah wajah pun berlalu
pada ruas-ruas ruang dan waktu
Meniti riuh, rindu, ragu, harap
Biar kami lelap dalam kandung tanah
lalu menjadi angka-angka merah
Megah, ironi
Oleh Kerabati Irena D.
Komentar
Posting Komentar